4 Manuver PKS dan Gerindra Runtuhkan Elektabilitas Jokowi

120 Views

Meski Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Gerindra kompak membentuk koalisi bersama untuk maju pada pemilihan presiden (Pilpres) 2019 dengan mengusung Prabowo Subianto sebagai calon Presiden untuk melawan incumbent, Joko Widodo (Jokowi). Namun, hal itu bukan jaminan Prabowo akan menang pada pilpres mendatang mengingat sejarah pencapresannya.

Berdasar pengalaman, PKS dapat dikatakan kurang setia. Tambah lagi kader Gerindra yang tidak pernah konsisten atas sikap politiknya.

Dalam beberapa lembaga survei, elektabilitas Jokowi terus berada diposisi teratas dibanding calon lain seperti Prabowo. Apalagi, kinerja dan hasil yang terus dilakukan Presiden Jokowi dalam hal pembangunan telah dirasakan oleh masyarakat. Selain itu Bank Dunia juga mengapresiasi kekuatan ekonomi Indonesia.

Namun untuk meruntuhkan elektabilitas Jokowi yang cukup menawan, PKS dan Gerindra tentunya tak akan tinggal diam dan akan menghalalkan berbagai cara untuk menekan Jokowi.

Setidaknya dapat diketahui strategi PKS dan Gerindra untuk menggembosi elektabilitas Jokowi yang super duper itu.

Pertama, kita bisa lihat dari gerakan #2019GantiPresiden yang digagas politisi PKS Mardani Ali Sera. Bahkan Mardani menyatakan, gerakan ini sah secara konstitusional.

“Gerakan #2019GantiPresiden merupakan antitesa dari gerakan yang sudah bergulir yaitu ‘Dua Periode’ untuk Pak Jokowi. Ini juga gerakan sah, legal dan konstitusional,” kata Mardani.

Selain itu, yang cukup kentara yang dilakukan kedua partai oposisi ini, saat meresmikan Sekretariat Bersama (Sekber) untuk pemenangan Pilpres 2019, di The Kemuning, Jalan Amir Hamzah Nomor 4, Menteng, Jakarta Pusat.

Sekber ini, menurut anggota Badan Komunikasi Partai Gerindra Andre Rosiade menegaskan, untuk menepis isu dan spekulasi yang berkembang tentang Prabowo di Pilpres 2019. Mulai dari King Maker hingga isu maju sebagai calon wakil presiden (cawapres) untuk Joko Widodo (Jokowi).

“Sekber ini untuk menjawab keraguan masyarakat terhadap isu-isu liar yang menyebutkan Pak Prabowo jadi King Maker atau Cawapres Pak Jokowi,” jelas Andre.

Kemudian yang ketiga, gabungnya PKS dan Gerindra meyakinkan syarat 20 persen pencalonan dengan mencalonkan Prabowo sebagai capres pada Pilpres 2019.

Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto pun sudah memberikan sinyal kuat akan maju sebagai capres 2019. Ia mengakatakan, sebagai mandataris partai pemegang mandat sekaligus ketua umum, Prabowo menyatakan diri tunduk dan patuh. “Saya menerima keputusan ini sebagai suatu penugasan, suatu amanat, suatu perintah dan saya menyatakan siap melaksanakannya,” kata Prabowo.

Tak hanya itu, yang keempat dapat dilihat bahwa kritik keras Prabowo dan Presiden PKS kerap dilontarkan kepada pemerintah yang dipimpin Presiden Jokowi. Diantaranya kritik masalah utang Indonesia. Gerindra menyebutkan, sebagai negara kaya tapi sangat memprihatinkan karena hidup dari utang. Dan kritik lainnya terkait dengan tenaga kerja asing (TKA).

Mengamini pernyataan Gerindra, Presiden PKS, M Sohibul Iman juga tak mau kalah mengkritisi soal jumlah utang Indonesia.

“Utang luar negeri Indonesia dibanding-bandingkan dengan Jepang, itu tidak apple to apple. Utang Indonesia ini sudah mengkhawatirkan, tak bisa dibandingkan dengan Jepang,” kata Sohibul.

Langkah inilah yang telah kita lihat sebagaimana terkesan ada upaya untuk mencapai kekuasaan dengan menurunkan elektabilitas Jokowi sebagai lawan politiknya pada Pilpres 2019 mendatang.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *