Agum Gumelar Berpesan jangan Jualan Agama dalam Kampanye



65 Kali di Baca

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Agum Gumelar menegaskan kepada pihak-pihak yang tidak suka dengan pemerintahan saat ini jangan mendukung gerakan radikalisme.

Menurutnya, jika tidak suka Pemerintah saat ini tidak masalah, tetapi jangan ketidaksukaan kepada Pemerintah disalurkan dengan mendukung gerakan radikal, karena kata dia itu kesalahan besar.

“Kalau memang enggak suka pemerintah, enggak masalah tapi jangan dengan disalurkan dengan dukung gerakan radikal,” kata Agum Gumelar di Rumpun Bambu Resto, Jakarta Timur, Selasa (5/2/2019).

Perbedaan politik maupun pilihan, lanjut Agum merupakan hal yang lumrah dan wajar. Ia lantas menyinggung sikap orang-orang yang kontra dengan Jokowi dalam beberapa tahun terakhir.

Agum juga mengatakan, Pilpres adalah saluran resmi bagi mereka yang tidak suka terhadap Pemerintah, namun jangan gunakan segala cara untuk menang, termasuk berjualan agama saat kampanye. Bagi yang tak suka dengan pemerintah, bisa menjadikan Pilpres pada 17 April nanti sebagai momentum. Namun, jangan menghalalkan segala cara untuk menang.

“Jangan menggunakan segala cara untuk menang, ada etika dan normanya. Jadi kalau sekarang ada aspirasi masyarakat, yang berkembang di masyarakat, si A mendukung B itu biasa, di negara demokrasi itu biasa,” tegasnya.

Agum menjelaskan, bahwa Presiden Jokowi layak memimpin Indonesia selama dua periode. Presiden Jokowi adalah orang yang sederhana, merakyat, tidak arogan, dan bisa menjadi kepala pelayan masyarakat, bahkan sifatnya tidak berubah sejak masih menjabat sebagai Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta dan Presiden RI.

Terakhir Agum berpesan kepada pendukung Jokowi-Maruf agar menggunakan etika dalam memenangkan pasangan nomor urut 01 itu di Pilpres 2019. Ia juga berpesan agar tidak “berjualan agama” dalam kampanye.