Akses yang Cepat karena Infrastruktur Terkoneksi Membuat Wisata Semakin Menyenangkan

Akses yang Cepat karena Infrastruktur Terkoneksi Membuat Wisata Semakin Menyenangkan

69 Kali di Baca

Sektor pariwisata akan tumbuh berkembang seiring dengan adanya pembangunan infrastruktur yang terkoneksi antar daerah antar
Provinsi di Tanah Air. Pasalnya, infrastruktur akan mempermudah orang bergerak tanpa harus membuang-bunang waktu dan energi di
jalan.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengatakan, pergerakan orang selalu diikuti dengan pergerakan barang, jasa, dan uang.

Menurutnya perjalanan wisata sendiri identik dengan pergerakan orang dari satu kota ke kota lain atau satu negara ke negara lain.

“Maka ketika Pak Jokowi memutuskan membangun infrastruktur, di situlah pariwisata juga start bergerak,” jelas Arief dalam
keterangan tertulis, Senin (24/6/2019).

Arief menilai, infrastruktur tidak hanya jalan tol, tapi juga bandara dan pelabuhan. Dengan semakin lengkapnya fasilitas bandara
dan pelabuhan, akses ke destinasi wisata pun semakin terbuka.

Contohnya, Saloka Theme Park yang diresmikan oleh Menpar pada Sabtu (22/6/2019) lalu. Menurutnya destinasi wisata yang berlokasi
di Tuntang, Rawa Pening, Kabupaten Semarang itu memiliki potensi besar karena didukung akses yang mudah.

“Ke Semarang kurang dari 1 jam. Salatiga 20 menit. Solo dan Jogja juga masih kurang dari 2 jam via tol, yang sudah menyambung
semua kota dengan bagus,” ujarnya.

Contoh lainnya adalah program #PesonaMudik2019 yang berlangsung lancar dan menyenangkan untuk para pemudik.

Program tersebut menyajikan informasi terbaru tentang 10 Top Destinasi, 10 Top Kuliner, dan 10 Top Events selama libur Lebaran,
yang dapat menjadi referensi pemudik saat berwisata di kampung halaman.

“Bahkan lomba instagram foto semula kami targetkan 10.000, bisa tembus di angka 34 ribu lebih,” kata dia.

Capaian sektor pariwisata

Perlu diketahui, selama empat tahun berturut-turut, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) terus mengalami peningkatan.

Pada 2016, jumlah wisman berada di kisaran angka 12 juta. Jumlah itu naik 21,88 persen pada 2017 menjadi 14 juta wisman. Sementara
itu, pada 2018 jumlahnya naik lagi menjadi 15,8 juta wisman.

Delapan influencer asal Arab Saudi menjelajahi berbagai destinasi wisata di Bandung dan Bali selama 9 hari, yakni mulai dari 13-21
Juni 2019 dalam program Familiarization Trip (Famtrip) yang bekerjasama dengan Visit Indonesia Tourism Officer (VITO) Arab Saudi.

Delapan influencer asal Arab Saudi menjelajahi berbagai destinasi wisata di Bandung dan Bali selama 9 hari, yakni mulai dari 13-21
Juni 2019 dalam program Familiarization Trip (Famtrip) yang bekerjasama dengan Visit Indonesia Tourism Officer (VITO) Arab Saudi.
(Dok. Humas Kementerian Pariwisata RI)

Capaian luar biasa juga terjadi pada program branding Wonderful Indonesia. Dari tidak berperingkat, kini posisinya naik hingga
menduduki peringkat ke-47 dunia.

Sejak 2016, program itu pun berhasil meraih banyak penghargaan.

Misalnya, pada 2016 program itu diganjar 46 penghargaan pada berbagai event di 22 negara. Tahun 2017, program Kemenpar tersebut
mendapat 27 penghargaan di 13 negara.

Tahun 2018 lalu, program itu juga meraih 66 penghargaan dari berbagai acara di 15 negara. Bahkan, hingga Maret 2019, Wonderful
Indonesia telah menerima 11 penghargaan lewat berbagai ajang pengharagaan di 6 negara.

Sementara itu, terkait daya saing pariwisata Indonesia atau The Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI), peringkat
Indonesia juga terus meningkat. Pada 2015 berada di peringkat 70, di 2017 posisinya naik menjadi rangking 42.

Bahkan, pariwisata Indonesia menempati peringkat ke-9 dalam 10 besar pariwisata dunia versi The World Travel & Tourism Council
(WTTC).

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) pun menorehkan berbagai prestasi, seperti The Best Ministry Of Tourism level Asia Pasifik di
ajang TTG Travel Awards 2018 dan The Best Marketing Minister Tourism of ASEAN dari Philip Kotler.

Peningkatan devisa

Berbagai capaian tersebut berdampak pada pernerimaan devisa pariwisata yang meningkat tajam. Tahun 2016 devisa pariwisata mencapai
13,5 miliar dollar AS per tahun.

Kemudian, Arief melanjutkan, penerimaan meningkat menjadi 16,8 miliar dollar AS pada 2017.

Sementara itu, Kemenpar mempoyeksikan perolehan devisa pariwisata sebesar 17,6 miliar dollar AS pada 2018.

“Sektor pariwisata diproyeksikan mampu menjadi penyumbang devisa nomor satu pada 2019, produk domestik bruto sebesar 15 persen.
Artinya menghasilkan sekitar Rp 280 triliun bagi devisa negara.” terang Arief.

Dia menambahkan, sektor pariwisata diproyeksikan mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang lebih tersebar di seluruh
Indonesia.

Dengan demikian, sektor pariwisata dapat menyerap 13 juta tenaga kerja pada 2019.

Akses yang cepat karena infrastruktur yang nyambung, membuat berwisata semakin fresh, semakin sering piknik, buat orang-orang
kreatif, akan semakin produktif.