Analisa dan Prediksi Menguatnya Daya Beli Orang di 2018



12 Kali di Baca

Head of Intermediary Business Teddy Oetomo mengatakan bahwa perekonomian Indonesia pada tahun depan akan lebih baik dibandingkan dengan tahun ini karena adanya kampanye di tiga provinsi yang mewakili 40 persen populasi penduduk Indonesia.

Menurut Teddy, biasanya daya beli akan menguat selama satu tahun jelang tahun politik alias pemilu. Seperti diketahui 2019 adalah tahun politik karena ada pilpres dan pemilihan legislatif.

“Tahun 2018 penting, ada Pilkada Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat. Ketiganya 40 persen dari total populasi, sudah nyolong start untuk 2019. Dana kampanye juga cukup berarti, tiga wilayah ini merupakan 30 persen ekonomi Indonesia, keangkat 30 persen,” katanya di Jakarta, Jumat (13/10/17).

Selain itu, lanjut Teddy menjelaskan, satu tahun sebelum musim politik belanja pemerintah juga akan meningkat dari biasanya. Apalagi pemerintah saat ini masih menggenjot proyek-proyek strategis infrastruktur.

“Konklusinya tahun depan lebih baik. Pertama, karena ada kampanye Pilkada dan kalau itu enggak usah lihat Pilpres 2019. Tahun depan Pilkada juga lebih banyak dari 2017, uangnya mutar lebih banyak sekalian kampanye 2019,” ujarnya.

Diungkapkan Teddy, pada tahun depan polanya memang berbeda dari edisi Pilpres 2004 dan 2009. Di mana, setahun sebelumnya perekonomian melemah, kali ini meski Pilpres berlangsung 2019, pengaruhnya lebih banyak saat 2018.

“Sering saya dapat pertanyaan kampanye setahun sebelum Pilpres, ekonomi enggak bagus. Kalau kita lihat ekonomi memburuk sebelum 2014 dan 2009, pergerakan PDB sebelum Pilpres turun tapi setelahnya naik,” katanya.

Stabilitas ekonomi internal Indonesia juga didukung oleh utang negara dengan rasio yang paling rendah dari negara lain, ekspor-impor yang berada dalam kondisi surplus serta likuiditas perbankan yang cukup baik.

Menurutnya, berdasarkan data satu tahun sebelum musim pemilu seperti 2013, 2008, 2003 naik. Karena ya biasa, sebelum keluar, pemerintah keluarkan duit bangun ini itu, berharap bisa terpilih lagi.

Dari data Schroders pertumbuhan daya beli masyarakat pada 2003, 2008 dan 2013 rata-rata mencapai 5,5 persen. Lalu untuk pertumbuhan belanja pemerintah juga meningkat pada 2003 sebesar 12,5 persen, 2008 sebesar 17,5 persen dan 2013 sebesar 5 persen.

Namun pertumbuhan ekonomi di satu tahun sebelum pemilu cenderung menurun, seperti pada 2008 yang hanya tumbuh 6,1 persen lebih rendah dari tahun sebelumnya 6,3 persen. Begitu juga pada 2013 yang tumbuh 5,72 persen lebih rendah dibanding 2012 sebesar 6,23 persen.

Faktor-faktor pemicunya adalah penurunan nilai ekspor. BPS mencatat nilai ekspor pada Desember 2008 minus 9,57 persen. Sementara pada Desember 2013 meningkat 6,56 persen, namun pada awal 2013 sempat minus.

“Kalau ekspor biasanya justu menguat setelah pemilu. Kalau daya beli dan belanja pemerintah turun setelah pemilu,” tukasnya.

Schroders memprediksi pertumbuhan ekonomi 2018 sama dengan prediksi Bank Indonesia (BI) dalam rentang 5,1-5,5 persen. “Kami memprediksi sama dengan BI,” tambahnya.

Untuk tahun depan, menurut Teddy, pihaknya itu akan fokus berinvestasi pada instrumen pasar modal (equity). Sebab instrumen pasar modal searah dengan pertumbuhan ekonomi.

“Kita selalu berusaha lebih baik dari indeks. Kalau ekonomi membaik itu equity lebih baik dari bond (obligasi). Kalau ekonomi turun sebaliknya. Karena tahun depan kami yakin membaik maka kemungkinan equity akan lebih baik dari bond,” jelas dia.