BW Seret Tuhan dalam Sidang MK

35 Views

JAKARTA – Ketidakmampuan Ketua tim hukum Prabowo – Sandiaga, Bambang Widjojanto (BW) membuktikan kecurangan hingga akhirnya mengatakan, hasil suara dalam laman Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) KPU, seharusnya sama dengan penghitungan manual berjenjang yang dijadikan patokan penetapan hasil Pilpres 2019.

Entah sudah membaca Undang-undang Pemilu BW dengan percaya diri menyatakan pandangannya, karena Situng adalah teknologi informasi yang menjadi kewajiban KPU sesuai undang-undang untuk sosialisasi, transparansi, akuntabilitas dan rekam jejak. Karena itu, situng dan penghitungan manual berjenjang merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

“Jadi, yang namanya situng itu memiliki legal standing dan eksistensinya dilindungi. Seharusnya hasil di situng sama dengan hasil rekapitulasi berjenjang dan ada hukum disclaimer. Disclaimer itu tidak bisa menjustifikasi seolah-olah itu justified,” ujar BW di Media Center Prabowo – Sandi, Jakarta, Senin (24/6)
BW optimistis, dalil-dalil yang mereka ajukan dalam gugatan hasil Pilpres 2019 akan diterima oleh Mahkamah Konstitusi (MK). Karena menurut BW, hanya dengan optimisme pihaknya bisa menjemput harapan.
“Bagaimana hasil akhirnya? Saya bilang bukan urusan saya, biarlah Allah yang menentukan hasil akhir. Kami menghadirkan bukti yang kami punya, biarkan Allah yang melengkapi seluruh bukti itu. Simpel saja, gitu lho,” pungkas BW.

Pernyataan BW yang memaksakan kehendaknya mirip dengan kelompok yang selama ini terus mengatasnamakan agama dan suka sekali menyeret Tuhan ke dalam politik praktis. Bahkan dalam beberapa kesempatan terkesan Tuhan dipaksa untuk mendukung salah satu paslon. Dan yang paling tidak bisa diterima adalah mereka melakukan sesuatu yang sebenarnya salah tapi merasa paling benar atas nama agama.

Dengan menggunakan agama sebagai tameng, mereka seolah membenarkan apa pun yang akan mereka lakukan. Jadi pihak mana pun yang tidak setuju dan menentang akan dianggap melawan agama. Tuhan diseret ke dalam narasi mereka yang keterlaluan ini. Kriminalisasi ulama adalah istilah yang dulu sering kali mereka teriakkan. Dengan memakai label ulama, mereka berharap bisa bebas melakukan apa pun dan tidak bisa disentuh oleh hukum. Sentuh sedikit saja maka itu akan menjadi kriminalisasi ulama.

Ada lagi momen, dulu, di mana Tuhan harus mendukung salah satu paslon. Dan jika tidak mendukung, takutnya tidak ada lagi orang yang mau menyembah. Ini diucapkan oleh seorang emak-emak stres saat berpuisi. Benar-benar stres tak tertolong.

Jadi tak elok kalau sampai membawa-bawa nama Tuhan ke dalam politik. Jangan pula anggap diri sendiri sebagai kelompok paling benar dengan membawa agama dan Tuhan, kemudian menuding pihak lain seolah paling jahat. Ini namanya tidak gentleman.

Tapi untunglah kita dikasih sebuah kebenaran. Salah satu kubu terang-terangan menggunakan agama untuk kepentingan politik. Mereka mengcopy dari apa yang terjadi di Jakarta saat Pilkada dulu. Ternyata takdir berkata lain. Kelompok yang menggunakan agama ternyata kalah oleh paslon lain. Ternyata Tuhan malah memilih kelompok lain sebagai pemenang. Penasaran dengan komentar mereka mengenai ini. Mereka terus menjual narasi kalau kelompok merekalah yang paling direstui.

Lihat saja ijtimak ulama. Capres dan cawapresnya pilihan mereka kalah, kan? Mau ngomong apa lagi? Lucunya ulama itu seolah eksklusif milik kubu sebelah, padahal jumlahnya tidak seberapa saja tapi seolah mewakili semuanya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *