Catut Nama Jenderal AH. Nasution Angkat Isu PKI, Ternyata Nasution Nyatanya Musuh Utama Prabowo



Untuk mendukung fitnah keji tentang kebangkitan kembali PKI para pendukung Prabowo-Sandi ternyata tidak segan-segan mencatut nama Jenderal Besar Abdul Haris Nasution yang menjadi korban langsung aksi kejam Gerakan 30 S PKI 30 September 1965.

Namun apakah Jenderal Nasution adalah pendukung Orde Baru ? Sikap kritis Ayahanda Ade Irma Nasution yang menjadi korban kekejaman G30S PKI tersebut ternyata sangat menakutkan dan momok bagi penguasa orde baru yang dipimpin oleh mertua Prabowo Subianto, Jenderal Soeharto.

Selama rezim Orde Baru berkuasa. Kegiatan Nasution mulai dibatasi, termasuk hak politik dan suaranya dikebiri habis-habisan oleh Suharto, hukuman ini tak jauh beda dengan mereka yang dituduh sebagai anggota atau keluarga dari organisasi terlarang seperti PKI.

Padahal, Nasution merupakan orang terdekat Soeharto sebelum naik ke kursi kekuasaan. Nasution juga lah yang mendorong Pak Harto, sapaan Soeharto, menjadi seorang presiden, boleh dibilang keduanya adalah sahabat dekat saat sama-sama menjadi prajurit di masa perang kemerdekaan hingga kekuasaan Orde Lama berakhir.

Saat Jenderal DR. AH Nasution menjadi KASAD dan Menteri tahun 1960an( Nasution jadi Kasad sejak Kolonel, tahun 1951 sampai berpangkat Jenderal tahun 1963), Soeharto masih berpangkat Kolonel dan menjadi Pangdam Diponegoro.

Jadi Soeharto itu benar-benar anak buah Jenderal Nasution, sekitar tiga (3) tingkat dibawahnya. Jadi Soeharto sangat sungkan dan hormat pada Jenderal Nasution. Bahkan saat Nasution menjadi Ketua MPRS, maka Nasution-lah yg melantik Soeharto sebagai Presiden tahun 1968.

Keretakan keduanya makin menjadi saat Nasution ikut terlibat dalam Petisi 50. Petisi 50 adalah sebuah pernyataan keprihatinan yang ditandatangani oleh 50 tokoh sebagai reaksi atas pidato Presiden Soeharto yang menyatakan lebih baik menculik satu orang dari 2/3 jumlah anggota DPR yang menghendaki amandemen UUD 1945 daripada membiarkan UUD 1945 di amandemen.

Menurut Hatta Taliwang cara penyingkiran lain Jenderal Nasution oleh rezim Soeharto yg dimotori Ali Moertopo adalah dengan memberi cap atau stigma bahwa Nasution adalah pendukung Negara Islam (padahal disatu sisi Nasution dibenci oleh ex DI/TII dan mungkin juga oleh ex PRRI – yang dipimpin ayah Prabowo Subianto Sumitro Djojohadikusumo- karena menumpas gerakan tersebut selama memimpin AD).

Hatta Taliwang sendiri yakin sebagai orang yang sangat agamis dan humanis, Nasution meskipun anak dan ajudannya jadi korban G30S,  Nasution tidak ingin melampiaskan dendamnya kepada yang terlibat termasuk kepada mereka rakyat bawah yang dituduh PKI.

Mungkin Nasution prihatin atas perlakuan rezim Soeharto terhadap mereka yang dianggap tidak tahu menahu apa itu G30S/PKI. Di lembaga atau Yayasan yg dipimpin oleh isterinya Ny.Johana Soenarti Nasution (penerima Award dari R Magsaysay, Philipina) antara lain ada disalurkan bantuan-bantuan kemanusiaan untuk korban keluarga yang dituduh PKI. Bahkan pernah berkomunikasi dengan Adi Sasono (Yayasan Humaika) mengurus korban tsb.

Sampai tahun 1980-an sejak Nasution dkk mendirikan Yayasan Lembaga Kesadaran Berkonstitusi dengan Bung Hatta, juga dengan M.Natsir dll, lalu keluar apa yang sangat dikenal sebagai Petisi 50, hubungan Jenderal Soeharto dengan Jenderal Nasution makin memburuk. Salah satu Jendral yang ingin gebuk Nasution, adalah Pangkokamtib Jendral Soemitro.

Perlakuan terburuk dialami AH Nasution saat sedang melayat ke mantan Wakil Persiden Adam Malik yang baru saja menghembuskan napas terakhirnya pada 1984. Saat itu dirinya tengah mengikuti salat gaib untuk menyalati jenazah Adam Malik, baru saja mau melaksanakannya dia malah digiring keluar.

Saat akan ditarik keluar, Nasution sudah dalam posisi takbiratul ikhram. Tiba-tiba dia didorong keluar oleh anggota pasukan pengawal presiden (paspampres) termasuk Prabowo Subianto dan pendukungnya Kivlan Zen dengan wajah sangat tidak ramah.

Alasannya mengejutkan, dia diminta keluar karena Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah akan datang ke rumah duka. Mendapatkan perlakuan itu, Nasution mengaku hanya bisa mengelus dada. Dia pun pasrah ketika digiring keluar rumah duka.

“Waktu itu saya cuma bisa mengucapkan Astagfirullah al azhiem, mau protes, protes sama siapa, sama Adam Malik? Enggak bisa,” kenang Nasution seperti yang tertulis dalam buku Bisikan Nurani Seorang Jenderal.

Pasokan air ledeng ke rumah Nasution pun diputus sehingga ia harus membuat sumur sendiri, selain itu media massa tidak diperbolehkan memuat wawancara dan tulisan Nasution. Bahkan di Mesjid Cut Meutia yang ia bangun, setiap salat Jumat, tentara selalu mengintai dalam posisi siap tembak agar Nasution tak naik mimbar.

Cuma itu? Tidak, Nasution juga tidak diperbolehkan memenuhi undangan keluarga pahlawan revolusi yang hendak mengadakan hajatan, walau rumah mereka tidak seberapa jauh dari rumah Nasution.

Nasution juga amat kesal ketika konsep Dwifungsi ABRI yang ia buat untuk sekadar menyampaikan aspirasi ABRI dalam dunia politik disalahgunakan Soeharto untuk membuat ABRI lebih mendominasi kekuasaan.

Selain itu Golkar yang Nasution dirikan dulu untuk membendung pengaruh PKI malah dijadikan mesin pengumpul suara dalam Pemilu oleh Soeharto dengan cara-cara yang tidak demokratis. Akibatnya Nasution bersumpah tidak akan mengikuti pemilu selama Soeharto berkuasa walau halaman rumahnya sempat dijadikan tempat pemungutan suara.

Ketika Nasution sudah renta dan Soeharto merasa Nasution tidak perlu lagi ditakuti, Soeharto merangkulnya kembali dengan memberi gelar Jenderal Besar. Nasution tetap mempergunakan pertemuan dibalik pemberian gelar itu untuk menyampaikan masukannya, tetapi Soeharto buru-buru pergi dengan alasan hendak buang air.

Atas berbagai hal yang menyakitkan yang ditimpakan Soeharto selama 20 tahun kepadanya, Nasution mengaku tidak dendam lagi.

“Saya tidak dendam. Jangankan pada orang yang menyiksa batin saya selama 20 tahun, pada orang yang telah membunuh anak sendri pun saya tidak dendam, pulang dari Pulau Buru (anggota Cakrabirawa) datang ke rumah minta maaf, ya saya maafkan.”

Sebenarnya kalau Nasution berdiam diri dan menutup mata terhadap berbagai ketidakberesan dalam pemerintahan rezim Soeharto, maka hidupnya akan jauh dari masalah. Tetapi Nasution bukan tipe orang seperti itu, ia menolak bungkam walau tingkahnya berbuah derita panjang, sebuah sikap yang tidak bisa dimiliki sembarang orang.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *