Dari Spesialis Bedah Syaraf, Caleg Gerindra Ini Jadi Spesialis Hoaks dan Fitnah



924 Kali di Baca

Seorang dokter yang juga Caleg Partai Gerindra, Dokter Taufan menyebar hoaks soal Jokowi dan aksi demo mahasisiwa. Ia membuat cuitan tendensius di akun twitter yang menampilkan tangkapan layar berita dari Tempo.co berjudul “Korban Meninggal itu Sudah Takdir, Jangan di Perpanjang Lagi”.

Faktanya antara judul dengan foto itu tak sesuai. Berita yang benar dalam laman tersebut berjudul ‘Jokowi Diminta Tak Hanya Pindahkan Ibu Kota, Tapi…’.

Dalam cuitannya dokter tersebut menulis “Pantaskah ini dilontarkan oleh pemimpin negara ? Pantas : like Tak pantas : RT“. Hingga Minggu (12/5) pukul 20.00 WIB, cuitannta telah di-retweet 5.414 kali dan di-like 1.750 warganet dengan ribuan komentar.

Berbekal foto editan dan berita palsu, dokter Taufan ini meyakini sebagai kebenaran lalu kemudian mengunggahnya tanpa mengecek lebih jauh. Bak manusia yang sedang lapar, dokter Taufan menggila dengan hoaks demi hoaksnya.

Sebelum hoaks di atas muncul dia mengunggah di Twitter menyoroti soal penyelenggaraan Pilpres yang menurutnya memakan korban melebihi jumlah penderita flu burung. Untuk menarik perhatian dan menambah provokasi maka diunggahlah cuitan hoaks tersebut.

Belum kapok, dokter Taufan ini juga meningkatkan level hoaksnya kali ini dengan menyebar video Gelora yang menjadi tradisi peringatan tragedi 12 Mei yang dilakukan mahasiswa Trisakti. Setelah video itu dia membuat cuitan provokasi mengajak para mahasiswa lainnya untuk ikutan demo ke DPR, KPU, Bawaslu.

Ternyata postingan soal hoaks demo mahasiswa itu dihapusnya dan foto profile di Twitter juga diganti.

Tak ada rasa bersalah, dokter ini pasti sudah buta mata dan hatinya, sudah kebal dan tak sensitif lagi dengan berita palsu dan fitnah. Artinya dalam kesempatan berikutnya tinggal menunggu waktu lagi bakal muncul hoaks demi hoaks dari sang dokter ini.

Setelah ditelusuri, terbongkar bahwa dokter dengan nama Taufan Budi Setyolaksono adalah sebagai pemilik akun @DrTaufan1. Ia adalah dokter spesialis bedah syaraf.

Beginilah efek caleg gagal yang akhirnya hanya bisa menyebar hoaks dan fitnah. Ia kalah dalam Pileg dan junjungannya juga kalah dalam Pilpres, sehingga ia ngamuk dan terus teriak menuding kecurangan, kemudian menyebarkan hoaks secara membabi buta. Sudah buta mata ia juga buta hati. Dokter spesialis bedah syaraf ini lebih pantas menjadi spesialis hoaks dan fitnah.