Dipimpin Presiden yang Tak Paham Ekonomi Makro, Indonesia di Ambang Kehancuran



326 Kali di Baca

Nasib Indonesia di ujung tanduk jika Pilpres 2019 dimenangkan Prabowo-Sandi. Betapa tidak, pasangan ini bahkan tidak mengerti perbedaan antara mengelola ekonomi makro dan mikro. Capres petahana Joko Widodo terpaksa memberi “mata kuliah” ekonomi makro kepada capres/cawapres pilihan ulama itu.

Dalam debat capres kelima yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019) malam, Jokowi menyatakan pembangunan infrastruktur digenjot oleh pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla (JK) empat setengah tahun terakhir. Pembangunan ini merupakan tahapan besar awal meningkatkan industrialisasi di dalam negeri. Hal tersebut disampaikan Jokowi menanggapi pernyataan Prabowo yang menyebutkan Pemerintahan Jokowi-JK yang tidak fokus melakukan industrialisasi.

“Saya kira tidak semudah itu, artinya memerlukan tahapan-tahapan besar. Ini yang sedang kita kerjakan. Infrastruktur yang kita bangun akan terhubung dengan kawasan industri, kawasan pariwisata. Tidak mungkin bisa langsung bangun terus ekspor. Perlu tahapan-tahapan besar,” ujar Jokowi.

Jokowi melanjutkan adapun tahapan-tahapan besar yang dilakukan pemerintah yaitu pertama pembangunan infrastruktur, kedua pembangunan sumber daya manusia (SDM), ketiga reformasi struktural, dan keempat teknologi.

Jokowi juga menuturkan mengelola ekonomi makro itu berbeda dengan ekonomi mikro karena ekonomi makro itu merupakan agregat produksi baik dari sisi permintaan dan penawaran dan dijaga oleh kebijakan-kebijakan pemerintah.

“Kalau kita berhadapan dengan ekonomi mikro itu hanya jual dan beli. Ekonomi makro kita mengelola agregat-agregat produksi baik di sektor pertambangan, pertanian, perkebunan, dan manufaktur,” kata Jokowi.