Disebut Banyak Uang Hadapi Pilpres Integritas Gatot Nurmantyo Dipertanyakan



71 Kali di Baca

Awal bulan ini Kivlan Zein mengejutkan masyarakat dengan menyebutkan dana Gatot Nurmantyo banyak dan lebih kuat dari capres Gerindra Prabowo Subianto yang juga notabene adalah berbasis militer dalam berkontestasi di Pemilihan Presiden 2019 mendatang.

Salah satu modal kuat Gatot menurut Kivlan adalah kekuatan finansial. “Uang banyak nih. Kalau untuk sekadar dana partai dia bisa. Uangnya saya tahu, uangnya berapa,” kata Kivlan saat diskusi di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat, 2 Maret 2018.

Kivlan tak mejelaskan lebih detail uang yang diperoleh Gatot untuk maju pilpres. Yang pasti, kata dia, kesanggupan modal itu sudah dinyatakan, dan disebut melebihi harta yang dimiliki Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Gatot sendiri terakhir menyerahkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) pada 29 Maret 2010, saat menjabat sebagai Gubernur Akademi Militer TNI Angkatan Darat total hartanya yang tercatat saat mencapai Rp 7,114 miliar dan USD 8.200.‎ Sementara Prabowo Subianto pada pilpres 2014 silam melaporkan hartanya kekayaannya sebesar Rp 1.670.421.574.372 dan USD 7.503.134.

Update terbaru berdasarkan data di laman Anti-Corruption Clearing House (ACCH) KPK, Gatot tercatat memiliki harta kekayaan Rp 13.704.369.535 dan USD 25.002. Gatot melaporkan kekayaannya tersebut ke LHKPN pada 30 September 2015.

“Saya tahu kekuatan dia. Bisa melebihi uangnya Prabowo. Cuma sekarang bisa tidak dia meyakinkan untuk dapat (dukungan),” kata Kivlan agar ucapannya lebih dapat dipercaya.

Menurut Kivlan, sejumlah opsi telah disiapkan bila Gatot benar-benar berniat menjadi calon presiden. Setidaknya ada tiga partai yang akan digaet yakni Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Persatuan Pembangunan.

Upaya itu diwacanakan untuk membuat opsi poros baru, di mana saat ini ada dua pilihan calon presiden yang mengemuka ke publik yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto Dan Gatot Nurmantyo mengisi poros ketiga.

“Demokrat 10 persen, PKB 9 persen. Baru 19 persen, tidak cukup. (Mungkin) PPP bisa lari (bergabung) itu,” kata Kivlan

Hitung-hitungan Kivlan Zein agar Gatot Nurmantyo dapat membuat poros ketiga dengan menjalin koalisi bersama Partai Demokrat tampaknya makin jauh panggang dari api. Hal tersebut dibuktikan dengan pernyataan Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) secara tersirat sudah menyatakan hal mendukung Jokowi. “Jika Tuhan Yang Maha Kuasa berkehendak, sangat bisa Partai Demokrat berjuang bersama Bapak (Jokowi),” kata SBY dalam sambutannya di Rapimnas Demokrat 10 Maret lalu.

Kapasitas SBY sebagai mantan presiden 2 Periode Indonesia tentu tidak dibandingkan dengan mantan Panglima TNI yang hanya memegang tongkat komando selama 2 tahun. Mendekati SBY hanya dengan modal duit sama saja dengan menggarami air laut, mengingat berlimpahnya modal politik SBY yang telah dikumpulkan selama 10 tahun di masa pemerintahannya.

Beberapa politisi telah menanggapi pernyataan Kivlan tersebut, Wasekjen Golkar Sarmuji menyebutkan uang dalam politik bukan segalanya “Kuat atau nggaknya itu nanti tergantung pertimbangan masyarakat. Kita tidak bisa memprediksi per hari ini karena pemilu masih lama. Tapi modal uang itu tidak menjamin semuanya,” tegas Sarmuji seperti dikutip dari detikcom. Menurut Sarmuji kecintaan rakyat kepada calon preside tak dapat dibeli dengan uang.

Lima partai pengusung Joko Widodo, PDIP, Golkar, NasDem, PPP, dan Hanura punya jawaban berbeda. Golkar, PPP, dan Hanura jelas menyatakan ketidaktertarikan mereka terhadap Gatot, andai disandingkan sebagai cawapres Jokowi.

Waketum Gerindra Sufmi Dasco Ahmad menyebut modal uang tak bisa membeli kekuatan parpol. “Sekarang modal uang bisa beli partai berapa?” ujar Dasco kepada wartawan, Kamis (8/3/2018). Dasco menyatakan partainya tak merasa tersaingi oleh sosok Gatot, yang disebut-sebut akan maju sebagai capres. Menurut Dasco, kekuatan Prabowo untuk maju di Pilpres 2019 sudah tak perlu diragukan.

“Gimana ceritanya modalnya lebih gede dari Prabowo? Yang diukur modal gede tuh apa? Pak Prabowo modal utamanya punya partai terbesar ketiga di Indonesia. Itu udah modal,” ujarnya.

Sementara itu Ketua DPP PKS Mardani Ali menilai, Mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo belum memenuhi syarat untuk maju jadi capres maupun cawapres 2019. Mardani lalu menjelaskan apa yang menurutnya modal utama di Pilpres 2019. Salah satunya terkait integritas seorang calon, bukan uang.

“Modal pilpres bukan uang. Salah dan fatal cara berpikir seperti itu. Modal pilpres adalah integritas dan berjuang untuk kepentingan rakyat, ditambah dekat dengan rakyat,” jelas Mardani.