Donald Trump Larang Imigran Muslim Masuk AS, Amerika Masih Terbuka Untuk Indonesia



61 Kali di Baca

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan kebijakan yang kontroversial tentang larangan enam negara mayoritas Muslim masuk ke AS. Perintah eksekutif Trump akhirnya dikabulkan Mahkamah Agung AS, meski mendapatkan protes dimana-mana.

Keputusan Trump ini sendiri memang mendapat penolakan dari berbagai pihak, salah satunya PBB. PBB meminta Trump untuk menarik keputusan melarang pengungsi masuk ke AS untuk sementara waktu.

Menurut Trump larangan itu diperlukan untuk mencegah terorisme masuk ke Amerika Serikat. Trump menyebut tindakan MA adalah sebagai sebuah kemenangan yang jelas untuk keamanan nasional AS.

“Sebagai presiden, saya tidak bisa membiarkan orang masuk ke negara kita yang ingin menyakiti kita. Saya ingin orang-orang yang bisa mencintai Amerika Serikat dan seluruh warganya, dan siapa yang akan bekerja keras dan produktif,” tegas Trump seperti dilansir dari laman Reuters.

Sebelumnya, pada 6 Maret lalu Trump menyerukan larangan bepergian ke AS selama 90 hari kepada orang-orang dari Iran, Libya, Somalia, Sudan, Suriah dan Yaman dan larangan 120 hari untuk semua pengungsi dan dilakukan pemeriksaan lebih ketat.

Trump mengklaim perintah tersebut dikeluarkan di tengah meningkatnya kekhawatiran internasional tentang serangan yang dilakukan oleh militan Islam seperti di Paris, London, Brussels, Berlin dan kota lainnya.

Sementara Pengadilan federal mengatakan bahwa larangan bepergian tersebut melanggar undang-undang imigrasi federal dan diskriminatif terhadap orang-orang Muslim yang melanggar Konstitusi AS.

Kementerian Luar Negeri AS langsung melakukan perintah itu dalam kurun waktu 72 jam ke depan.

Juru Bicara Kemlu AS, Heather Nauret mengatakan larangan bepergian ke Amerika Serikat itu juga akan disosialisasikan kesemua industri travel ketika keputusan diresmikan.

Keputusan yang diumumkan kemarin ini rupanya lebih cepat dari agenda yang telah dijadwalkan. Mahkamah Agung tadinya ingin memberikan pengumuman pada Oktober mendatang

Terlepas dari perintah eksekutif Trump, semua negara tanpa terkecuali harus membantu untuk menyelesaikan persoalan yang ada, dan menormalkan kembali situasi di sejumlah negara yang terdampak larangan.

Terkait larangan Presiden Donald Trump, masyarakat Indonesia jangan merasa tersudut dengan komentar dan penilaian Trump mengenai Islam. Apalagi ikut campur terlalu jauh. Karena disetiap negara punya aturan dan kebijakan sendiri yang mutlak tanpa intervensi negara manapun, termasuk Indonesia yang notabene berpenduduk mayoritas Islam.

Sebaliknya kita bisa memperkenalkan kepada dunia bahwa Islam secara khusus di Indonesia tak seburuk seperti yang diberitakan media internasional.

Trump melarang imigran atau pengungsi dari 7 negara seperti Iraq, Iran, Syria, Yaman, Sudan, Libya, dan Somalia yang kebetulan mayoritas beragama Muslim. Jadi kebijakan ini lebih ke arah pelarangan bersifat teritorial dan bukan kultural.

Tidak benar juga jika kita menilai buruk kebijakan Trump itu melarang semua negara yang mayoritas Muslim. Setidaknya AS masih terbuka untuk Indonesia. Meskipun larangan ini berdampak pada citra buruk kepada AS yang terkesan ada diskriminatif.