DPR Selamatkan RRI!

296 Views

Jakarta – Radio Republik Indonesia (RRI) dalam sepekan ini seperti sedang dilanda sunami. Pemberitaan yang bertubi-tubi mengabarkan tentang kekisruhan yang terjadi di tubuh radio yang menjadi kebanggan rakyat Indonsesia sejak Zaman Kemerdekaan itu. Yang paling menonjol adalah
Surat Pemberitahuan Rencana Pemberhentian (SPRP) terhadap Direktur Utama M Rohanudin, pada 23 April 2021 yang diterbitkan Oleh Dewan Pengawas (Dewas).

M. Rohanudin dianggap telah melakukan berbagai kesalahan fatal sepanjang ia menjabat sejak 2016. Dewas yang telah berakhir masa kerjanya pada 4 April 2021 ini menyebut jika, Dirut Rohanudin telah melakukan tindakan penyalahgunaan wewenang, nepotisme dan diskriminasi terhadap karyawan LPP RRI, yang menyebabkan pengabaian kewajiban menjalankan LPP RRI sesuai prinsip good public governance.

Saya sebagai mahasiswa membaca potret ini tentu saja, amat jengkel. Dari Tiga Kanal Informasi Negara yakni TVRI, Antara dan RRI tidak ada yang luput dari persolan internal. LPP TVRI lebih memperihatinkan. Alih-alih jadi Media pemersatu bangsa, malah mempertontonkan kemunduran dan ketertinggalan di media broadcasting Indonesia. Program-program TVRI tidak ada yang leading. Dan semakin hari semakin tidak menarik untuk ditonton. Tak dan Inovasi apalagi Inspirasi. Padahal Triliunan Uang negara habis untuk TVRI. Begitupun dengan Antara. Kanal Berita Online ini tak lepas dari persoalan antara pengelola dan dewan redaksi. Beberapa Karyawan melawan dan tidak terima atas kebijakan Direktur Utamanya. Tak ada prestasi yang significant sepanjang 5 tahun terakhir. Pada pemerintahan SBY, Kantor Berita Antara mencoba melakukan pembenahan. Salah satunya adalah mengembangakan ANTARATV.

Pada Sekitaran 2010, saat awal-awal saya kuliah Nampak ANTARATV menyuguhkan konten-konten yang bagus. Feature dan kemasan yang enak diliat. Tapi Belakangan ANTARTV memble dan tak beda dengan para content berita siber pada umumnya. Saat ini saya melihat justru yang mencoba melakukan perubahan yang significant adalah RRI. Saya pernah diajak dosen saya ke Kantor Pusat RRI di Jalan Rakyat Merdeka, Kisaran Monas. Studio Broadcastinta RRI sangat wah, dan peralatannya update. RRI juga telah mendevelop RRINET, yang mencoba menyesuaikan zaman dimana visual menjadi kebutuhan, Selain juga membuat platform, RRIGO. Dimana kita bisa mendengarkan RRI lewat smartphone kita. Terbaru saya dengan RRI juga meluncurkan Big Data Artificial Inteligent, Pada sektor Jurnalistik. Nah, capaian ini patut kita acugi jempol. Jujur saja, melihat Kantor RRI itu cukup PD jika dibandingkan dengan Kantor TVRI yang doyok dan LKBN ANTARA. Sebagai Mahasiswa saya melihat RRINET sejajar dengan TV-TV/Radio Modern saat ini.

Nepotisme Direksi

Tapi lagi-lagi informasi Korupsi dan Nepotisme cukup buat geregeten. Anak, Menantu dan Istrinya Dirut saat ini ternyata bekerja di RRI. Dirut mengaku Istrinya memang sudah berkarir sejak sebelum mereka menikah ya. Ini sih bisa ditolerir ya. Tapi memasukkan menantu sebagai Kepala produksi di Kantor Cabang adalah tindakan gegabah. Meskipun Beralasan Profesional. Terkait dengan nepotisme ini, saya penasaran dan bertanya kepada teman yang ada bekerja di RRI. Ternyata tradisi nepotisme ini ternyata tidak hanya dilakukan oleh Dirut. “Mungkin Dirut, masih wajar. Mungkin malu kalau kecium atau kesorot,” kata seorang kawan ini. Yang bikin jengkel Ada direksi dan Dewas yang memasukan saudaranya tan. Banyak keluarga Dewas maupun direksi yg bekerja di RRI yang kapasitasnya patut dipertanyakan.

1. Dewas Nuning punya anak baru dimasukkan di RRI

2. Ketua Dewas, Mistan punya dua keluarga di RRI, satu anaknya satu lagi tidak jelas di RRI Kediri.

3. Nurhanudin Direktur SDM Umun malah parah, memanfaatkan jabatannya memindahkan isterinya dari institusi lain ke RRI, lainnya dia punya Ponakan kerja di RRI Bogor.

4. Anhar Ahmad Direktur LPU, punya isteri kerja di RRI sudah pensiuan, Adiknya sekarang jadi kepala RRI Semarang.

5. Rahadian Gingging Direktur Teknik ( punya anak dan ponakan) dimasukkan ke RRI saat jadi Menjabat jadi Direktur.

*Audit Dewas*

Karena itulah, jika kemudian hanya menyoroti Dirut ini memang agak aneh. Ada motif terselubung. Karena itulah saya coba iseng-iseng googling, Apa alasan Mereka punya??
Jawabannya, Bikin Sakit perut… Ternyata Dewas yang teriak-teriak kencang ini, Mistan dan Hasto Kuncoro tidak lolos dalam seleksi Tahun 2021-2026. Mungkin orang ini jengkel dan iri terhadap orang-orang yang lolos. Jadi sekuat mungkin menghadang orang-orang yang tahu seluk beluk RRI, sehinga tidak mengganggu kepentingan mereka. Mungkin.

Yang bikin sebal lagi. Kenapa mereka mengeluarkan (SPRP) saat mereka sudah habis masa jabatannya. Juga SRRP ini tidak ada artinya karena infonya DIRUT Rohamudin akan berhenti dalam dua bulan lagi.. Ini benar-benar gemblung. Dewas yang berteriak-teriak soal memajukan RRI, Peduli Terhadap good public governance omongannya hanya sampah mencari sensasi. Karena itulah, Bapak/Ibu DPR agar focus dan tidak terpengaruh dengan Nyanyian Dewas yang sudah kehilangan harapan itu… Kalau Perlu sekalian Dewas-Dewas itu diaudit dana apa kerjaanya selama ini. Demiakian. Bravo RRI. DPR harus Selamatkan RRI

Fiar, mahasiswa Komunikasi Andalas.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *