Dua Tersangka Pelaku Teroris Dipastikan Terafiliasi Jaringan Teroris Bahrun Naim Dan ISIS



11 Kali di Baca

Polisi berhasil mengamankan sejumlah barang bukti dirumah salah seorang pelaku SP terduga teroris yang menyerang Mapolda Sumatera Utara 25 Juni 2017, diantaranya bendera Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), buku tulis, poster pimpinan ISIS Al Baghdadi, VCD Rasulullah Bersabda, laptop, komputer dan parang.

SP merupakan terduga teroris yang sekarang dalam kondisi kritis setelah ditembak anggota Brimob. Dan Satu pelaku lainnya berinisial AR, asal Medan meninggal dunia setelah ditembak personil Brimob.

Menurut Kadiv Humas Polri, Irjen Setyo Wasisto di Mabes Polri mengatakan bahwa dari barang bukti yang diamankan, kuat dugaan pelaku penyerangan terafiliasi jaringan teroris Bahrun Naim dan ISIS.

Kepolisian juga menduga serangan teror ke pos jaga Polda Sumut merupakan buntut dari imbauan pimpinan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) dan berbaiat kepada ISIS, Bahrun Naim.

Aksi dua pelaku penyerangan pos jaga Polda Sumut itu juga diduga berkorelasi dengan penangkapan tiga orang Medan yang dilakukan Detasemen Khusus (Densus) 88 belum lama ini.

Penyerangan teroris itu mengakibatkan dua anggota polisi dari Yanma Polda Sumut menjadi korban. Seorang di antaranya Aiptu Martua Singgalingging tewas digorok pelaku. Sementara Brigadir Erbi Ginting mengalami luka, dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sumatera Utara, Medan.

Selain itu, pelaku juga mencoba membakar ruangan pos. Salah satu rekan Aiptu Martua, Brigadir E. Ginting kemudian meminta tolong kepada anggota Brimob yang ada di pos lainnya.

Serangan biadab ini jelas tak dapat ditolerir dan harus disikapi dengan cepat oleh aparat keamanan agar pergerakan para teroris dapat dilumpuhkan.

Masalah teroris ini, harus betul-betul diwaspadai masyarakat, dan ditumpas bersama-sama kejahatan terorganisir ini. Karena jelas para pengikut teroris ini secara nyata telah memakan mentah-mentah ideologi yang menyimpang dari paham sesungguhnya, yakni Pancasila.

Seklumit Kisah Bahrun Naim

Berangkat menuju Suriah bukan perkara mudah bagi Bahrun Naim, karena ia merupakan eks narapidana Densus 88. Lewat blognya tertanggal 12 Juli 2015 lalu diceritakan tentang bagaimana ia mengatur perjalanan dari Indonesia menuju Suriah.

Muhammad Bahrun Naim alias Anggih Tamtomo alias Abu Rayan nama yang disebut-sebut kepolisian merupakan eks narapidana kepemilikan senjata api dan bahan peledak. Naim ditangkap Datasemen Khusus 88 Antiteror Polri pada November 2010.

Untuk memperoleh paspor, ia harus mengelabui pihak imigrasi dengan mencari oknum yang bisa disuap.

Mendapat visa tak gampang pula sebab, kata Bahrun, permohonan visanya untuk umrah saja sering ditolak karena statusnya sebagai eks napi.

Untuk mendapat visa ke Turki, Bahrun mendapat bantuan dari tim peretasnya untuk mengacak sistem imigrasi Indonesia dan Turki sehingga namanya tak masuk dalam daftar hitam pada sistem.

Dalam tulisannya, Bahrun bercerita dia mendapat informasi bahwa sumber intelijen mengetahui perihal keberangkatan mereka.

Ini membuat Bahrun dan kelompoknya menggunakan jalur lain menuju Turki dan mengorbankan tiket senilai Rp35 juta yang sudah dibeli sebelumnya.

Ketika Bahrun bersama tim terakhir, akhirnya berangkat ke Suriah, lagi-lagi tim peretas membantu mereka mengacak sistem online petugas bandara. Bahrun juga membawa alat pengacak sinyal terbatas dalam radius tiga meter.

Di Istanbul, Turki, anak Bahrun Naim membuat petugas kewalahan saat mencoba menghadangnya yang berlarian ketika melewati pemeriksaan imigrasi.

ISIS, menurut tulisan Bahrun, menjemput timnya karena dua tim sebelumnya telah lebih dulu berangkat ke Suriah. Mereka melewati perbatasan dengan kawat berduri.

Peran TNI dalam Penanganan Tindak Terorisme

Ini menjadi tantangan bagi Tentara Nasional Indonesia dan akan semakin kompleks. Terlebih saat ini UU Terorisme masih dalam pembahasan di DPR.

Paham Terorisme ini harus diputus mata rantai nya agar tidak menyerap generasi muda kedepannya. Jangan sampai memakan korban baru lagi.

Presiden mengingatkan kembali tugas dan fungsi TNI sebagaimana yang disampaikan oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman. TNI adalah hak milik nasional yang selalu utuh dan tidak berubah, yaitu tidak berubah dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam merawat Pancasila serta menguatkan persatuan dalam kebinekaan.

“Untuk itu saya harap TNI agar terus menumbuhkembangkan mental bela negara, mental persatuan kita, mental kesatuan bangsa kita,” kata Presiden.

Presiden juga meminta TNI untuk memberikan dukungan penuh kepada Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban di masyarakat.

Artinya, dalam kasus ini peran TNI sangat diperlukan dalam membantu tugas Polisi salah satunya dalam menindak para pelaku teroris agar dapat terdeteksi secara dini.