Fadli Zon Pakai Kaca Mata Kuda Memandang Kehidupan Buruh di Era Jokowi Suram

148 Views

Radarkontra – Hari Buruh, Fadli Zon kembali mengambil kesempatan tak lain untuk menyerang Pemerintahan Presiden Joko Widodo. Ada banyak hal yang harus diluruskan. Terlebih lagi, dalam beberapa hal, apa yang ia sampaikan tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.

Waketum Gerindra ini menyoroti Perpres Tenaga Kerja Asing (TKA) hingga peraturan yang lebih teknis.

Kritik itu bagus, tapi tergantung juga niatannya untuk membangun atau menjatuhkan?

Tentu saja, apa yang dilakukan Fadli Zon adalah kritik yang menjatuhkan. Kritik yang dilakukan Fadli tidak sejalan dengan fungsi dirinya sebagai pejabat negara. Justru seringkali membuat kegaduhan dan mendiskreditkan pemerintah tanpa memiliki dasar yang objektif. Bak memnacing dikolam buruh, FAdli Zon gunakan Perpres TKA sebagai umpan mujarab.

Adapun Fadli zon menyebut, untuk memuluskan kepentingan investasi asing, pemerintah Presiden Joko Widodo terus-menerus mengorbankan kepentingan buruh lokal. Ini kata dia, membuat kehidupan perburuhan menjadi makin suram.

Bahkan ia juga mengatakan, bahwa Pemerintah terus merilis berbagai aturan yang menyerahkan kesempatan kerja di dalam negeri kepada buruh asing, termasuk untuk pekerjaan-pekerjaan kasar. Selain itu, pemerintah juga selalu menyangkal dan menutup mata atas membanjirnya buruh kasar asal Cina di Indonesia. Serta melonggarkan aturan tentang tenaga kerja asing.

Faktanya, Fadli Zon justru tidak pernah memberikan kontribusi yang nyata bagi bangsa. Sedangkan Presiden Jokowi secara jelas berpihak pada rakyat.

Jokowi mendukung pertumbuhan kesejahteraan kaum buruh, seperti pada tahun pertama, hari buruh dijadikan momentum oleh Jokowi untuk menelurkan program rumah murah bagi buruh, Jokowi juga tidak otoriter dan membebaskan buruh bahkan dari BUMN untuk melakukan demonstrasi peringatan May Day.

Perpres nomor 20 tahun 2018 tentang TKA itu pun sejatinya merupakan suatu bentuk perlindungan yang dilakukan oleh Presiden Jokowi terhadap buruh, pada saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta beliau juga mengangkat upah buruh hingga 40 persen.

Namun niatan baik jokowi ini pun justru dianggap sebagai celah buruk oleh oposisi. Fadli malah mengatakan bahwa Perpres TKA yang diterbitkan Presiden terakhir merugikan kepentingan kaum buruh.

Kemungkinan jauh sekali, Fadli Zon ternyata hanya memandang dari kacamatanya sendiri. Sementara masyarakat dari berbagai kalangan buruh yang mendukung Presiden Jokowi memahami bahwa ada pihak-pihak yang mempolitisir masalah TKA sehingga mengaburkan manfaat sesungguhnya.

Dapat dikatakan, kritik Fadli terhadap pemerintah sangat terkesan sarat kepentingan politik semata. Hal ini terlihat dari sikap dirinya yang secara terbuka menginginkan Presiden Jokowi tidak lagi menjabat pada periode kedua, padahal saat ini masih belum memasuki tahap kampanye Pilpres.

Seorang kepala negara tentu juga tidak hanya berpikir kepada satu kelompok saja, banyak hal yang harus dipikirkan Jokowi diantaranya para investor asing. Tanpa disadari modal yang ditanamkan para investro telah berperan dalam memajukan bangsa.

Jokowi bukan Bandung Bondowoso yang bisa bangun banyak rumah dalam semalam saja. Karena, memang, bukan hanya satu malam Jokowi bekerja. Dan ini lah tekad Jokowi selama empat tahun masa kerjanya yang sebentar lagi purna tugas pada tahun 2019 mendatang, yakni merealisasikan janji-janjinya tanpa harus direcoki berbagai urusan kepentingan politik golongan.

Bila dirunut selama 12 tahun ke belakang, berdasarkan data BPS, tingkat pengangguran pada 2006 mencapai 10,3 persen dari total tenaga kerja, pada 2007 sebesar 9,1 persen, pada 2008 menjadi 8,4 persen, pada 2009 turun menjadi 7,9 persen, pada 2010 turun lagi menjadi 7,1 persen, pada 2011 turun menjadi 6,6 persen.

Tingkat penganggguran pada 2012 turun menjadi 6,1 persen, pada 2013 naik menjadi 6,2 persen, pada 2014 turun menjadi 5,9 persen, pada 2015 naik menjadi 6,2 persen, pada 2016 turun menjadi 5,6 persen, dan pada 2017 turun menjadi 5,5 persen.

Penurunan angka tingkat pengangguran tersebut tak lepas dari peran serta sektor pendidikan yang dinilai mengalami peningkatan pesat. Sektor pendidikan dinilai Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri mampu menciptakan tenaga kerja dengan keahlian yang mampu bersaing dengan serbuan tenaga kerja asing.

Penurunan tingkat pengangguran tersebut masih belum maksimal mengingat target yang ingin dicapai pemerintah berada di kisaran lima persen.

Untuk itu, Kementerian Ketenagakerjaan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak yang berkaitan langsung dengan sektor “pencetak tenaga kerja” tersebut untuk dapat menghasilkan tenaga kerja yang berkualitas.

Selain itu, maraknya perkembangan sektor informatika maupun sektor daring (online) juga memiliki andil yang besar dalam mengurangi angka pengangguran tersebut. Salah satunya soal transportasi berbasis daring yang kini marak di berbagai wilayah di Indonesia. Baginya terlepas pro-kontra soal keberadaan transportasi daring tersebut, sektor transportasi daring telah terbukti mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Faktor lainnya yang dinilai cukup berperan penting dalam pengurangan angka pengangguran adalah meningkatnya sektor usaha kreatif yang dalam hal ini menyangkut usaha kecil menengah (UKM). Usaha kreatif yang terus tumbuh, memiliki peran dalam pengurangan angka pengangguran.

Jadi Peringatan Hari Buruh Internasional saat ini menjadi momentum mewujudkan komitmen bersama untuk mengatasi masalah pengangguran, bukan sekadar menyuarakan aspirasi atau tuntutan pekerja setiap tahunnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *