Generasi Muda Berpeluang Besar Membangun Pertanian di Perbatasan

159 Views

Wilayah perbatasan di Indonesia merupakan bagian terintegral dan strategis mencangkup pertahanan keamanan, ekonomi dan sosial budaya.

Namun, arah kebijakan pembangunan wilayah perbatasan cenderung inward looking, sehingga seolah menjadi bagian kecil dari suatu negara.

Nah, Kondisi ini menyebabkan wilayah perbatasan seakan tidak mendapat prioritas dalam pembangunan, terutama karena terpencil dengan aksesibilitas dan jumlah penduduk terbatas.

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian Agung Hendriadi, saat membuka seminar “Menggerakkan Generasi Muda untuk Membangun Pertanian di Perbatasan” di Kalimantan Barat, Rabu (18/10/17) mengatakan, di era Presiden Joko Widodo Sesuai dengan Nawacita, Kementerian Pertanian telah mencanangkan Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia 2045.

“Dengan menetapkan program Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor di Wilayah Perbatasan,” katanya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Kementan menjalankan pendekatan bottom-up planning dimulai dari identifikasi kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi petani di lapangan sebagai bagian penting dalam perumusan kebijakan dan program pembangunan pertanian. Karena itu, kebijakan dan program yang dijalankan Kementan didasarkan pada kondisi lapangan dan dilakukan melalui pendekatan kesisteman (system approach).

Sementara itu, Mark Smulders dari FAO Representative for Indonesia dan Timor Leste mengingatkan, bahwa migrasi penduduk desa kekota trendnya terus meningkat, sehingga berdampak pada semakin berkurangnya tenaga kerja pertanian.

“Ini adalah tantangan bagi dunia dalam mencukupi kebutuhan pangan penduduk dunia, ditengah semakin berkurangnya petani karena terjadinya migrasi” ujar Mark.

Sedangkan, Rahadian (Dekan Fakultas Pertanian Tanjungpura) mengatakan ada 3 peluang bagi pemuda menekuni pertanian, pertama, tingkat pendidikan generasi muda lebih tinggi daripada generasi tua.

Kedua, harga produk pertanian akan terus meningkat setelah tahun 2017, karena kebutuhan terus meningkat. Kemudian yang ketiga, kebutuhan produk pertanian meningkat sampai tahun 2050, karena kebutuhannya diprediksi meningkat sampai 70 persen.

“ini adalah peluang besar bagi generasi muda untuk terjun dibidang pertanian,” ungkapnya.

Disisi lain, Pusat Sosek Kebijakan Pertanian, Hermanto menjelaskan, bahwa untuk membangun wilayah perbatasan, peranan generasi muda sangat strategis mendorong pertumbuhan ekonomi untuk mengurangi kesenjangan kesejahteraan antar wilayah dan antar pendapatan masyarakat di wilayah perbatasan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *