Heboh! Denda Rizieq Shihab di Arab Saudi Seharga Bambu Anies Baswedan



60 Kali di Baca

Pasca Pilpres 2019 terselesaikan, dan pemenangnya telah diketahui dan ditetapkan, timbul niat untuk melakukan pemulihan. Karena masalah yang seharusnya sudah terhenti ketika sudah diketahui siapa menang siapa kalah, belum juga ada tanda-tanda kesadaran mengakui.

Indonesia pun terlanjur terbagi menjadi dua. Pendukung Prabowo dan pendukung Jokowi. Demi menyatukan kembali yang telah terbelah itu, maka Indonesia butuh rekonsiliasi.

TRekonsiliasi itu pun terus berkembang bahkan dari pihak oposisi mengatakan bahwa rekonsiliasi sebagai syarat pemulangan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab dari Arab Saudi ke Tanah Air.

Para politikus maruk tak luput memanfaatkan angin itu. Mereka menghembus membesarkannya. Ditambah dengan narasi-narasi khas politisi penjual janji, suasana semakin menjadi panas.

Namun, jika dicermati keberadaan para pendukung Prabowo itu, secara keberpihakan semakin lama menjadi semakin mengecil. Militansinya semakin melemah. Hiperbolik narasinya saja yang masih ada.

Aksi penggalangan massa yang biasanya mereka lakukan, dengan berbagai dalih, mulai dari reuni, kampanye akbar, hingga yang terakhir halal-bihalal, yang bertepatan dengan putusan PHPU oleh Mahkamah Konstitusi, pesertanya semakin sedikit saja. Gaungnya juga semakin tidak heboh.

Bahkan ada yang secara terang-terangan menunjukkan kekecewaannya terhadap Prabowo.

Bisa diartikan, Prabowo semakin tidak menarik lagi, atau karena memang mereka sendiri sudah berangsur “sembuh”. Seiring dengan waktu, perbedaan yang mereka usung semakin tidak laku.

Ya tentu saja belum sepenuhnya sadar. Sebenarnya pembelahan yang terjadi, tidak serta merta akan selamanya membelah, dan seiring dengan waktu akan sembuh dengan sendirinya.

Lalu untuk apa dan siapa rekonsiliasi itu?

Sederhananya rekonsiliasi itu adalah pemulihan.

Menjadi terlalu murah bila akhirnya rekonsiliasi hanya diartikan dengan bolehnya mereka menjadi pendukung pemerintah. Yang akhirnya ikut serta dalam kabinet.

Parahnya lagi oposisi pun mulai berkelakar seolah paling tinggi ilmunya sehingga dengan seenaknya meminta pemulangan Rizieq Shihab sebagai syarat rekonsiliasi.

Padahal Rizieq bisa pulang kapan pun ia mau tanpa harus menuding pemerintah telah melakukan penagkalan.

Dijelaskan Dubes RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel mengatakan jika Habib Rizieq ingin pulang ke Indonesia maka harus membayar denda Rp 550 juta ke Arab Saudi untuk 5 orang sebab selama ini HRS di Arab Saudi didampingi 4 orang lainnya.

Kewajiban pembayaran denda karena aturan overstay atau tinggal di suaatu tempat lebih lama dari masa yang diizinkan dan visa yang dimiliki HRS telah habis masa berlakunya pada pertengahan 2018.

Itu artinya kendala kepulangan HRS bukan karena Pemerintah mengintervensi namun karena terjepit denda yang harus dibayar.

Selama ini Dahnil Anzar Simanjuntak dan kubu 02 lainnya seolah-olah menuduh Pemerintah mempersulit kepulangan HRS, padahal sebenarnya ingin meminta bantuan Pemerintah untuk memulangkan HRS karena sudah dikenakan denda yang tidak bisa dibayar HRS ke Pemerintah Arab Saudi. Jadi ternyata rekonsiliasi Jokowi-Prabowo gagal karena kendala denda HRS di Arab Saudi.

Kalau dipikir-pikir lagi denda kepulangan HRS di Arab Saudi ternyata seharga Bambu Anies Baswedan. kok bisa?

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tahun lalu meresmikan instalasi seni bambu yang berada di dekat Bundaran Hotel Indonesia (HI).

Instalasi seni bambu dengan nama ‘Getih Getah’ tersebut merupakan hasil karya dari seniman Joko Avianto.

“Bikin kami orang Indonesia bangga dengan bambu Indonesia, hari ini kita merasa bangga dengan bambu Indonesia itu,” ujarn Anies.

Untuk biaya pembuatan serta pemasangan instalasi seni bambu tersebut, menurut Anies menelan biaya Rp550 juta. Biaya tersebut merujuk bantuan dari 10 BUMD DKI.

“Biaya sekitar Rp 550-an (juta) kemudian dikonsorsium oleh 10 BUMD kalau enggak salah,” ucap Anies.

Lebih dari itu, Anies menyampaikan instalasi seni bambu tersebut hanya akan bertahan selama 6 hingga 12 bulan saja.

Kenyataan tersebut sangat miris dan menunjukkan betapa malangnya nasib HRS di Arab Saudi sebagai pentolan FPI. Gusti Ora Sare untuk kaum-kaumm pelaku kerusuhan, buktinya sudah terlihat di kehidupan Habib Rizieq Shihab.

Namun itulah politik. Awalnya saling “menyakiti” namun di akhirnya, demi sebuah kepentingan yang lebih besar ataupun dengan alasan sekadar bersikap oportunis.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *