Ikhlas, Rekonsiliasi Dilakukan Tanpa Syarat Demi Persatuan Bukan Demi Rizieq Shihab

Ikhlas, Rekonsiliasi Dilakukan Tanpa Syarat Demi Persatuan Bukan Demi Rizieq Shihab

429 Kali di Baca

Wacana rekonsiliasi pascapemilu 2019 yang dibumbui dengan persyaratan terus mengundang kritikan. Salah satu kritikan tersebut datang dari Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno yang menyebut bahwa rekonsiliasi seharusnya dilakukan demi persatuan.

“Rekonsiliasi mestinya tanpa syarat apa pun harus ikhlas lillahi ta’ala untuk kepentingan bangsa,” kata Adi di Jakarta, Rabu (10/7/2019).

Adapun tujuan rekonsiliasi politik menuurt dia hanya satu yakni mengakhiri pertikaian antarkubu yang sangat melelahkan. Rekonsiliasi itu juga menyangkut mental model berpolitik untuk siap kalah dan siap menang.

Karena itu adanya permintaan pemulangan pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab dari kubu Prabowo Subianto sebagai syarat rekonsiliasi politik dinilai tidak tepat. Pasalnya, Rizieq dapat pulang ke Indonesia tanpa ada yang menghalangi.

“Apalagi kasusnya sudah SP3, itu artinya secara prosedur dan substansial, pulang atau tidaknya Rizieq tidak ada kaitannya dengan rekonsiliasi. Beda ceritanya kalau kepulangan Habib Rizieq dihalang-halangi atau ditolak kelompok tertentu, mungkin perlu dimediasi aparat keamanan,” kata Adi.

Adanya syarat yang diajukan Gerindra justru menjadi preseden buruk bagi penyelenggaraan Pilpres berikutnya. Sebab rekonsiliasi harusnya terlepas dari masalah hukum yang menyandung Rizieq.

Kunci rekonsiliasi agar berhasil dan terlaksana adalah sikap kebesaran hati yang ditunjukkan oleh pihak yang kalah.

Sejatinya rekonsilasi bertujuan untuk membangun kembali persatuan di tengah masyarakat pasca-pilpres 2019. Oleh sebab itu, rekonsiliasi tidak digunakan sebagai alat untuk melakukan transaksi-transaksi tertentu.

Publik pun bisa mengira bahwa tercetusnya ide rekonsiliasi bersayarat itu tak lepas dari hutang budi Prabowo pada Rizieq.

Balas Budi ini nampaknya sangat penting bagi Prabowo karena dia melihat bahwa dalam situasi politik sekarang ini, dia tidak bisa mengharapkan dukungan partai koalisi yang memang sudah dibubarkan.

Kelompok pendukungnya yang masih setia kelihatannya adalah para ormas, termasuk FPI dan sayap politiknya.

Tentunya dengan kembalinya Rizieq Shihab diharapkan oleh kubu ini dukungan politik itu semakin kuat.

Namun sebenarnya langkah kubu Prabowo ini seperti bermain api. Dengan sikapnya ini, justru ada kesan kuat bahwa seolah Gerindra dan Prabowo mensuport ideologi yang mereka anut yakni radikal. Walaupun hal itu sudah sering dibantah.

Realita juga yang sangat gamblang adalah, Prabowo seperti tersandera oleh Rizieq Shihab. Karena sepertinya setiap keputusan besar hampir selalu memasukkan Rizieq sebagai syarat.

Prabowo sedang tersandera oleh Rizieq Shihab demi menjaga eksistensi pendukungnya meski harus mengorbankan suara partai oposisi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *