Indonesia Minta PBB Bersikap Tegas Atas Kejadian Di Komplek Masjid Al-Aqsa

0
628

Pemerintah Indonesia menyampaikan duka cita mendalam kepada korban dan keluarga korban serangan yang dilakukan pihak keamanan Isreal di Kompleks Masjid Al-Aqsa, Jerusalem.

Serangan tersebut telah menyebabkan tiga orang jemaah tewas dan lebih dari 100 orang mengalami luka-luka.

Atas insiden itu, Indonesia mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera bersidang dan mengambil langkah tegas. Khususnya, untuk memberhentikan tindak kekerasan di Kompleks Masjid Al Aqsa.

Selain itu Indonesia sangat mengecam penembakan terhadap imam Masjid al-Aqsa yang dilatarbelakangi upaya keamanan Israel untuk membubarkan paksa demonstrasi jemaah kemarin.

“Indonesia menolak segala bentuk aksi kekerasan dan pelanggaran HAM, termasuk pembunuhan terhadap jemaah yang berupaya menjalankan haknya untuk melakukan Ibadah di Masjid Al Aqsa,” demikian pernyataan tertulis yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri RI, Sabtu (22/7/17).

Pemerintah Indonesia menginginkan Masjid Al Aqsa dan ‘The Dome of the Rock’ tetap sebagai tempat suci untuk dapat diakses bagi semua umat Muslim. Kemudian, Indonesia juga mengingatkan kepada Israel untuk tidak mengubah status quo kompleks Al-Aqsa.

Oleh karena itu, Indonesia juga mendesak agar Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dapat segera lakukan pertemuan darurat untuk membahas situasi di kompleks Al Aqsa.

Sementara, PBB telah menyerukan de-eskalasi kekerasan dan ketegangan di Yerusalem. Juru bicara PBB, Farhan Haq, mengatakan kebebasan umat beragama di Yerusalem harus dihormati.

Menurut Haq, ini penting bagi semua orang di tempat-tempat suci, termasuk semua jemaah di tempat-tempat suci.

“Masalahnya rumit dan kami memahami masalah keamanan yang sah, namun di sisi lain penting bahwa status quo di lokasi tetap dipertahankan.”

Sebelumnya, konflik penutupan kompleks Bukit Bait Suci di Yerusalem berbuntut panjang. Penutupan tempat ibadah umat Islam, Kristen dan Yahudi itu, menyusul penembakan dua tentara Israel oleh tiga orang yang diduga warga Palestina, pada Jumat (14/7) lalu.

Pemerintah Israel terus memperketat penjagaan dan memasang alat pendeteksi logam serta pagar besi di Lions Gate, yang memicu kemarahan rakyat Palestina.

Warga Muslim Palestina pun melakukan boikot dengan menolak masuk Masjidil Aqsa dan beribadah di luar masjid, di depan Lions Gate.

Bentrokan itu semakin membuat ketegangan di wilayah Bukit Bait Suci, tempat Masjidil Aqsa berlokasi, meruncing. Bahkan, guna menekankan protes mereka, Partai Fatah yang menguasai pemerintahan Palestina, menyerukan pemberontakan yang disebut ‘Day of Rage’ pada Rabu (19/7).