Jokowi Ajak Masyarakat Indonesia untuk Hijrah dari Hal yang Buruk ke Kebaikan

0
137
Jokowi Ajak Masyarakat Indonesia untuk Hijrah dari Hal yang Buruk ke Kebaikan
Jokowi Ajak Masyarakat Indonesia untuk Hijrah dari Hal yang Buruk ke Kebaikan

Presiden Joko Widodo mengajak masyarakat Indonesia untuk hijrah dari hal yang buruk ke kebaikan, Presiden juga mengajak masyarakat hijrah atau berpindah dari perpecahan ke persatuan.

Ajakan itu disampaikan Jokowi saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Relawan Pengusaha Muda (Repnas) Jokowi-Ma’ruf Amin, di Hotel Fairmont, Jakarta, Sabtu (3/11/2018).

Menurut Ketua Umum PPP, M. Romahurmuziy, pidato ajakan hijrah Jokowi merupakan hal positif dan mengandung semangat agama.

Rommy mengatakan, kata hijrah juga merujuk pada siroh nabawiyan (sejarah nabi). Ia mengatakan Nabi Muhammad pernah hijrah dari Mekkah ke Habasyah dan dari Mekkah ke Madinah.

“Namun ketika sudah fathu mekkah (pembukaan Kota Mekkah), nabi menyebut sudah tidak ada lagi hijrah fisik, namu hijrah secara maknawi yaitu dari hal buruk ke kebaikan,” kata Rommy dalam keterangan tertulisnya, Minggu (4/11/2018).

Rommy menambahkan, penggunaan kata ‘hijrah’ oleh Presiden Jokowi, juga sesuai ajaran ajaran Islam. Rommy menilai Jokowi mengajak hijrah atau berpindah dari perpecahan ke persatuan, dari prasangka buruk ke berbaik sangka, atau dari kebencian ke ujaran kebenaran.

“Semuanya itu adalah ajaran agama. Tentang prasangka misalnya di al-Qur’an ada ayat yang menyebut ijtanibuu katsiiron minadh dhonni, inna ba’dlodh dhonni itsmun (Jauhilah prasangka, karena sebagian besar prangka buruk itu dosa),” kata Rommy.

Memang belakangam ini idiom hijrah sedang populer dikalangan anak muda muslim, maknanya pun kata Rommy merupakan hal positif. Sehingga wajar saja jika kini Jokowi mengajak masyarakat agar berubah ke hal yang lebih baik.

Sementara itu, Juru bicara timses Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Irma Suryani Chaniago mengungkapkan bahwa pidato hijrah Jokowi tepat untuk menjaga persatuan dalam menghadapi dinamika politik 2019.

Dalam pidatonya mantan Gubernur DKI Jakarta itu, mengajak masyarakat untuk hijrah dari perilaku konsumtif ke produktif, dari pola pikir pesimis menjadi optimis, serta dari sifat marah untuk menjadi sabar.

“Iyalah, kita semuanya harus hijrah dong dari hoax dari SARA. Dari fitnah hijrah dong, mau menang sih boleh saja, siapapun yang mau menang jadi presiden silakan aja, tapi jangan merusak persatuan bangsa enggak boleh,” kata Irma.