Jokowi Sebut Jalan Paling Cepat Menghadapi Perlambatan Ekonomi Global Adalah Investasi

Jokowi Sebut Jalan Paling Cepat Menghadapi Perlambatan Ekonomi Global Adalah Investasi
170 Views

Perlambatan ekonomi global mau tidak mau harus dihadapi oleh bangsa Indonesia. Namun yang terpenting kata Presiden Joko Widodo bahwa perekonomian Indonesia perlu menyiapkan “payung” untuk mengantisipasi perkembangan ekonomi global yang telah mengalami perlambatan dan kemungkinan terjadinya resesi yang semakin besar.

Terkait hal itu Jokowi mengatakan bahwa Jalan yang paling cepat dan menjadi kunci untuk menghadapi perlambatan ekonomi global adalah investasi.

“Kalau hujannya besar, kita nggak kehujanan. Kalau gerimis kita ya nggak kehujanan. Syukur nggak ada hujan dan nggak ada gerimis. Tapi, angka-angka menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi global sudah mengalami perlambatan dan kemungkinan resesi akan semakin besar,” kata Jokowi saat memimpin rapat terbatas (ratas) membahas antisipasi perkembangan perekonomian dunia di Kantor Presiden Jakarta, Rabu (4/9).

Jokowi lantas mencontohkan depresiasi mata uang yuan Tiongkok dan peso Philipina yang sudah terjadi akibat perlambatan ekonomi global.  Menurutnya tantangan itu harus di antisipasi dan dihadapi. Oleh karena itu Presiden berharap ada langkah-langkah antisipatif yang benar-benar konkret.

Untuk itu, Jokowi minta seluruh kementerian yang berkaitan dengan ekonomi, menginventarisir regulasi-regulasi yang menghambat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

“Regulasi-regulasi yang membuat kita lamban itu betul-betul mulai diinventarisir dan nanti seminggu lagi kita akan bicara mengenai masalah bagaimana segera menyederhanakan peraturan-peraturan yang menghambat dan memperlambat itu,” kata mantan Wali Kota Solo ini.

Di sisi lain Presiden mengungkapkan bahwa informasi dari investor-investor yang ditemui dan catatan yang disampaikan oleh Bank Dunia ternyata ada masalah internal dalam negeri yang menghambat investasi Indonesia. Presiden mencontohkan pada dua bulan yang lalu ada 33 perusahaan di Tiongkok keluar dan 23 memilih di Vietnam dan 10 lainnya perginya ke Malaysia, Thailand, dan Kamboja.

“Nggak ada yang ke kita. Tolong ini digarisbawahi. Ini berarti kita memiliki persoalan yang harus kita selesaikan,” kata dia seperti dikutip Antara.

Terkait perizinan Jokowi mengungkapkan bahwa Indonesia dalam mengurus investasi sangat lama hingga bertahun-tahun berebda dengan Vietnam yang hanya butuh dua bulan saja.

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti berpendapat bahwa perekonomian Indonesia memiliki daya tahan untuk menghadapi pelemahan ekonomi global yang kini terjadi. Dengan fiskal dan meneter yang dikelola secara kredibel, ia berkeyakinan, perekonomian Indonesia tidak akan masuk dalam resesi seperti yang kini dialami Turki, Argentina, dan Singapura.

Destry juga tidak menlihat adanya resesi global yang masif seperti terjadi pada 2008. Pasalnya, karena kondisi perekonomian global sekarang sudah mengalami deleveraging atau mengalami penurunan leverage aset. “Ini beda dengan 2008 saat suprime mortgage nilainya bisa berlipat 10 kali dari nilai portofolio induknya. Apakah akan ada perlambatan? Iya. Tapi, apakah akan terjadi resesi secara masif? Saya tidak melihat,” ujarnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *