Kekuasaan DIbagi-bagi Prabowo saat Kampanye



187 Kali di Baca

 

Bandung – Kampanye Prabowo dengan memperkenalkan para calon menterinya jika di terpilih menjadi presiden adalah bagian dari bagi-bagi kekuasaan. Orang-orang yang akan diangkat menjadi menteri adalah mereka yang sudah habis-habisan mendukungnya dan patungan besar untuk kampanye.

Calon menteri cabinet Prabowo adalah orang-orang tidak memiliki kompetensi dibidangnya. Mereka dipilih tanpa dasar yang jelas dan tanpa pertimbangan matang.

Pemilihan AHY sebagai calon menteri Prabowo hanyalah langkah taktis Prabowo untuk menarik hati pendukung Partai Demokrat agar tetap mendukungnya. Apalagi AHY pernah digadang-gadang menjadi Cawapres Prabowo, tapi malah digeser oleh Sandi.

Juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Ace Hasan Syadzily merespons kampanye capres 02 Prabowo Subianto di Bandung yang menyebut beberapa nama yang akan menjadi kandidat calon menteri di kabinetnya jika terpilih menjadi presiden.

Ace menilai, cara Prabowo menyebutkan nama-nama calon menteri hanya untuk sebagai bahan “jualan” dan menunjukkan bahwa koalisi partai berjalan solid dan akur.

“Kenapa? Karena kan selama ini kita lihat memang koalisi mereka belum sepenuhnya menunjukkan soliditas. Terutama misalnya pernyataan terakhir dari AHY yang seperti membebaskan kader Demokrat bebas untuk memilih,” katanya saat ditemui di DPR RI, Jakarta, Jumat (29/3/2019) siang.

Ia menilai, itu merupakan cara Prabowo untuk menyolidkan koalisi partai dengan memberikan intensif jatah kursi menteri.

“Ada insentif koalisi yang akan mereka dapatkan kalau mereka secara sungguh-sungguh berkampanye dan serius mendukung 02. Namun, saya kira dengan Pak Prabowo menyampaikan tawaran kursi, itu kan seharusnya ya menang dulu. Jangan dulu menawarkan jabatan menteri tanpa mereka ada jaminan bahwa proses politik 19 hari ke depan ini berjalan lancar. Seharusnya dia dipastikan menang dulu,” katanya.

Namun hingga saat ini, Ace mengaku Jokowi-Ma’ruf berencana soal nama-nama menteri yang ada di dalam kabinet jika menang dan terpilih nanti.

“Sejauh ini kami masih belum membicarakan soal kursi kabinet ya. Karena kami sangat percaya bahwa Pak Jokowi, Pak Kiai Ma’ruf memiliki preferensi yang sangat kuat dan kami percayakan. Sejauh ini enggak ada pembicaraan terkait kursi menteri,” katanya.

Mantan Cawapres gagal AHY mengutarakan mengenai pembagian kekuasaan pada kampanye di Bandung ini.

“Saya kira itu sebuah kewajaran dalam koalisi ya, saya pikir koalisi manapun pada akhirnya ingin, bukan bagi-bagi kekuasaan,” kata AHY yang kita tidak tahu apa isi hatinya bahwa seharusnya dirinyalah Wapres Prabowo, di Hotel Horison Bandung, Jawa Barat, Kamis, 28 Maret 2019.

Sebelumnya, saat kampanye terbuka di Lapangan Sidolig, Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Prabowo memanggil satu persatu petinggi partai koalisi yang ikut dalam agenda kampanye terbuka. Dia memperkenalkan para petinggi parpol itu sebagai calon menterinya.

“Kalau gue jadi presiden, mana yang pantes (masuk) di kabinet? Ngapain saya sembunyi-sembunyi? Jangan beli kucing dalam karung. AHY pantes jadi menteri? Kenapa? Jangan karena ganteng saja,” tanyanya kepada pendukung yang hadir.