Keliling Kampanye Prabowo-Sandi, Emak-emak Militan Ini Ternyata Tetap Sebar Hoax Dan Ujaran Kebencian



79 Kali di Baca

Tertangkapnya para pelaku penyebaran hoax dan ujaran kebencian tentang isu kebangkitan PKI mayoritas merupakan pendukung Prabowo-Sandi di media sosial ternyata tidak membuat mereka kapok dan jera.

Isu PKI yang dulu digunakan penguasa dan diktator Orde Baru Soeharto untuk menyingkirkan semua lawan politiknya dan mengintimidasi rakyat agar selalu tunduk dan patuh kepada dirinya, kini secara nyata dan terbuka digunakan kembali oleh pihak Prabowo-Sandi yang juga didukung oleh keluarga besar mantan Presiden RI kedua Jenderal Soeharto.

Oleh karena pengawasan hoax dan ujaran kebencian di media sosial sudah dapat dipidana dan ditelusuri oleh pihak kepolisian, menjelang Pilpres April 2019 mendatang ternyata kubu Prabowo-Sandi menjalankan propaganda dan kampanye hitamnya untuk mengdiskreditkan Jokowi sebagai anggota PKI dilakukan secara door to door dan dilakukan oleh kaum emak-emak militan pro paslon 02.

Salah satu buktinya adalah beredarnya video emak-emak pendukung Prabowo-Sandi yang menghimbau rakyat untuk menggunakan hak pilihnya dan tidak golput. Himbauan menggunakan hak pilih dan tidak golput tersebut tentu sangat baik dan mendukung demokrasi.

Namun saat seorang tuan rumah disambangi oleh emak-emak kubu paslon 02, seorang kepala keluarga menyatakan golput karena merasa tidak ada yang benar diantara kedua pilihan calon presiden/wakil presiden sejak tahun 2014.

Namun desakan, intimidasi pihak emak-emak 02 tersebut sangat disayangkan karena mengarah dan stigma bahwa bila golput maka akan dimanfaatkan orang jahat dan Indonesia kembali dipimpin PKI sekaligus secara tak langsung mendiskreditkan seorang Presiden sebagai pemimpin PKI.

“maksudnya Bapak meng”judge” (menilai) pasangan yang nggak benar itu yang mana ?” desak si emak-emak kepada tuan rumah.

Sang tuan rumah jadi kelihatan salah tingkah dan semakin terpojok.

“Nggak boleh juga kalau bapak mengatakan mereka (para paslon pilpres) nggak bener.” tegas si Emak-emak.

“Jadi Bapak mau suara Bapak nanti dipakai buat PKI, orang jahat, orang tidak baik, Bapak mau ?.. istgihfar Pak” kata emak-emak itu lagi yang tentunya mengarahkan tuduhan PKI kepada paslon capres 01 Jokowi-Ma’ruf Amin.

Salah seorang dedengkot isu Presiden Jokowi PKI La Nyalla Mattalitti pun sudah mengakui kesalahannya. Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf Amin, Erick Thohir meyakini bahwa permintaan maaf La Nyalla diucapkan secara ikhlas. Ia juga salut karena eks Ketum PSSI itu berani jujur tentang hoax yang pernah ia sebarkan.

“Beliau ini seorang tokoh yang luar biasa, dia mengakui itu dan dia meminta maaf dan saya yakin ikhlas karena minta maafnya langsung kepada ulama cawapres kita, meminta maafnya langsung kepada Pak Jokowi yang disakiti, ini luar biasa,” ungkap Erick.

Kejujuran yang disampaikan La Nyalla disebutnya penting untuk masyarakat. Erick mengatakan seharusnya semua tim kedua pasangan calon capres dan cawapres menghadirkan fakta-fakta kepada masyarakat.

“Saya rasa bang Nyalla sebuah figur yang luar biasa ya di mana beliau bisa bicara dengan hati nurani menyatakan itu semua hoax. Berarti apa artinya, artinya yang dilakukan hari ini banyak yang hoax,” tuturnya.

Namun kesadaran La Nyalla tidak atau belum menghampiri para penggiat hoax PKI lainnya agar mereka segera bertobat dan beristighfar. Isu PKI adalah isu basi dari mentoknya strategi selain rencana penerbitan kembali tabloid Obor Rakyat.

Sampai disini, kita semua paham bahwa ambisi pemenangan Prabowo-Sandi sedang dilakukan dengan berbagai cara. Masyarakat harus diliterasi agar menjauhi tipikal paslon yang belum terpilih saja sudah gemar berkampanye hitam, apalagi jika nantinya terpilih.

Tak hanya PKI namun “mbahnya PKI” seperti Orde Baru yang lebih jahat mungkin akan terjadi di sistem kepemimpinan Indonesia.