Ketum GP Ansor Pertanyakan Kelompok yang Ingin Mengubah Pancasila

22 Views

Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas menyebut banyak kelompok-kelompok yang menyatakan Pancasila sebagai produk kafir, Pancasila adalah thogut dan tidak sesuai dengan syariat Islam.

Itu artinya kelompok yang menyatakan Pancasila tidak Islami adalah salah besar. Yaqut menjelaskan sebagaimana diketahui bahwa pada sila pertama berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Itu artinya, keberadaan Pancasila sebagai ideologi negara sudah sesuai dengan prinsip Islam. Karena itu, ia mengajak kadernya untuk terus menjaga Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa.

“Mereka belajar dari mana mengatakan bahwa Pancasila tidak sesuai dengan syariat Islam?” tegas dia di Kantor GP Ansor, Jakarta Pusat, Senin (28/8/17).

Pancasila merupakan konsensus yang diwariskan oleh para pendiri bangsa termasuk para kiai dan ulama. Oleh karena itu, Pancasila harus dirawat dan dilestarikan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Karena itulah, pola pikir yang demikian dinilai Yaqut tidak bisa diterima. Meskipun umat Islam berjumlah lebih banyak dari yang lain, tapi perlu diingat Indonesia ini tegak berdiri dan merdeka bukan hanya perjuangan umat Islam, tapi juga umat-umat agama lain.

Kemudian Yaqut menegaskan pada sila kelima yang berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” yang selama ini diperjuangkan umat Islam sama halnya dengan yang diperjuangkan umat yang lainnya.

“Pertanyaannya umat yang mana? Mereka maunya umat itu ya umat Islam thok. Maunya Indonesia keadilan sosial itu ya hanya untuk umat Islam,” ujarnya.

Ada sebuah akidah yang ia jelaskan, “tashorruful imam ala rokyatil manutun bil maslahah” Artinya, pemimpin itu diukur dari bagaimana mereka mampu memberikan keadilan sosial bagi mereka yang dipimpin.

Hal tersebut menunjukkan Pancasila telah mengakomodir keberagaman yang dibingkai dalam kebhinnekaan, yang didalam sarat toleransi yang juga sesuai prinsip keislaman sehingga tidak ada alasan mengubah ideologi Pancasila.

“Katolik, Kristen, Hindu, dan Buddha semua ikut berjuang memerdekakan negara ini. Jadi konteks umat ini harus kita letakkan pada umat seluruh agama. Karena mereka dilindungi bukan karena ikut berjuang, tapi juga dilindungi oleh UU,” tegasnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *