KH. Maruf Amin : Jihad Bukan Dengan Terorisme

0
371

Apa yang terjadi belakangan dan yang baru saya terjadi di Mapolda Sumatera Utara bukanlah tindakan jihad yang sesungguhnya. Jadi jangan dibawa-bawa jihad dalam segala macam aksi terorisme.

Serangan biadab pelaku terorisme yang menyebabkan satu anggota Polri Aiptu Martua Ginting tewas sangat melukai hati umat Islam yang saat itu tengah berbahagia menyambut Hari Raya Idul Fitri.

“Tidak bisa aksi teror itu disebut jihad. Dan, jihad bukan dengan terorisme,” tegas Rais Aam PBNU Kiai Ma’ruf Amin dalam pernyataan tertulisnya.

Jihad sebagaimana diperintahkan dalam Islam bukanlah tentang membunuh atau dibunuh tetapi tentang bagaimana berjuang keras memperoleh keridhaan Ilahi. Baik individual mau pun secara kolektif, Jihad merupakan suatu hal yang esensial bagi kemajuan rohani.

Dalam ayat Al-Quran, Jihad ini diterjemahkan sebagai “berjuang” Kata Jihad itu memang secara relatif pendek sekali tetapi implikasinya luar biasa dalam masyarakat Islam secara keseluruhan dan dalam kehidupan pribadi seorang Muslim.

Sementara, Jihad itu ada aturannya, karenanya terorisme itu bukan jihad. Ini harus ditegaskan, terutama kepada generasi muda agar tidak mudah dipengaruhi oleh paham-paham menyesatkan, apa radikalisme atau terorisme itu.

Menurut Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, Hery Haryanto Azumi menegaskan, kalangan teroris telah membajak makna jihad. Ironisnya, teror yang dilakukan untuk tujuan politik.

“Gerakan kaum teroris ini sudah melenceng. Mereka membajak makna jihad yang sesungguhnya,” kata Hery.

Setiap warga negara, lanjut Hery mengatakan masyarakat harus mendukung aparat penegak hukum untuk memberantas jaringan teroris demi terwujudnya Indonesia yang aman dan damai, sebagai nikmat Tuhan yang harus disyukuri dan dipertahankan.

Kewajiban mempertahankan NKRI, menurut Hery adalah jihad sebagaimana dilakukan oleh Hadrotus Syaikh KH Hasyim Asyari melalui Resolusi Jihad.

Umat Islam dan segenap elemen bangsa harus memperkukuh persatuan dan solidaritas. Artinya, segenap bangsa Indonesia harus satu kata. Sebab, apa pun bentuk teror tidak bisa dibenarkan.

Oleh karena itu, untuk mencegah aksi teror yang belakangan berganti dengan proxy war, Hery menilai, penanganan ideologi teroris harus dilakukan dari hulu sampai hilir.

“Pemerintah harus bekerja sama dengan pesantren dan madrasah,” ungkapnya.