Kinerja Ekonomi Presiden Jokowi Dipantau Dunia, PWC Ramalkan Indonesia Empat Besar Dunia

Kinerja Ekonomi Presiden Jokowi Dipantau Dunia, PWC Ramalkan Indonesia Empat Besar Dunia

Berbeda dengan calon presiden no urut 02 Prabowo Subianto yang menakut-nakuti kader-kader Partai Gerindra dan rakyat Indonesia pada umumnya bahwa tahun 2030 negara Indonesia akan punah.

Justru lembaga konsultasi ekonomi internasional sekaliber PricewaterhouseCoopers lebih optimis bahwa indonesia di tahun 2030 bisa menjadi negara berpendapatan tinggi dengan PDB per kapita di atas US$ 12.475 atau lebih 4 kali lipat dibanding PDB saat ini.

Salah satu syarat Indonesia mencapai PDB setinggi tersebut menurut PricewaterhouseCoopers (PWC) adalah melaksanakan program jangka panjang untuk memacu produktivitas bangsa dan kualitas SDM yang menguasai teknologi.

Pembangunan infrastruktur yang gencar, persatuan, dan stabilitas politik akan mendukung transformasi NKRI menjadi kuat dalam 12 tahun mendatang, sehingga terhindar dari ancaman menjadi negara gagal atau bubar.

Peningkatan produktivitas dan kualitas SDM di bidang teknologi tersebut menurut PWC akan menghindari Indonesia terjebak dalam jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).

Middle income trap adalah sebuah situasi yang dihadapi sebuah negara saat negara tersebut tidak mampu meningkatkan perekonomiannya menuju keranjang negara-negara berpendapatan tinggi (high income countries).

Bank dunia mengklasifikasikan negara berdasarkan pendapatan per kapitanya, yaitu negara berpendapatan rendah (pendapatan per kapita di bawah US$ 1.045), negara berpendapatan menengah ke bawah (pendapatan per kapita US$ 1.045-4.125), negara berpendapatan menegah ke atas (pendapatan per kapita US$ 4.125-12.746), dan negara berpendapatan tinggi (pendapatan per kapita di atas US$ 12.746).

Dengan produk domestik bruto (PDB) per kapita US$ 3.570, Indonesia saat ini berada di level negara berpendapatan menengah ke bawah (lower middle income country).

Melangkah lebih jauh lagi PWC justru meramalkan Indonesia akan masuk 4 besar ekonomi Dunia. Kepala Ekonom PwC John Hawksworth menyatakan, ekonomi dunia bisa tumbuh lebih dari dua kali lipat hingga 2050, jauh melampaui pertumbuhan penduduk.

Hal itu karena peningkatan produktivitas yang didukung oleh teknologi.

Proyeksi tersebut diukur dari rasio PDB pada tingkat daya beli yang disesuaikan di perbedaan tingkat harga berbagai negara. Ukuran tersebut dinilai memberikan patokan yang lebih baik dari sisi volume barang dan jasa yang diproduksi dalam perekonomian.

“Secara rata-rata, pasar negara berkembang (E7) bisa tumbuh sekitar dua kali lebih cepat negara maju (G7). Akibatnya, enam dari tujuh ekonomi terbesar dunia di tahun 2050 diproyeksikan berasal dari negara berkembang yang dipimpin oleh China di puncak, India nomor dua dan Indonesia nomor empat,” jelasnya dalam riset, dikutip Kamis (9/2).

Hal itu akan menyebabkan ekonomi Amerika Serikat (AS) turun ke tempat ketiga dalam peringkat GDP global. Sementara, kontribusi 27 negara terbesar di Eropa terhadap PDB dunia bisa jatuh di bawah 10 persen pada tahun 2050.

Tak hanya itu, ekonomi Inggris dilaporkan bisa turun ke posisi 10 pada tahun 2050, sementara Perancis keluar dari 10 besar, dan Italia keluar dari 20 besar. Negara-negara tersebut akan disalip oleh negara-negara berkembang yang tumbuh lebih cepat seperti Meksiko, Turki dan Vietnam.

Saat ini, PwC mencatat ekonomi Indonesia masih bertengger di posisi delapan dari seluruh dunia. Sementara pada tahun 2030, ekonomi Indonesia diprediksi mampu merangsek naik ke posisi kelima.

“Tapi negara-negara berkembang perlu meningkatkan lembaga keuangan dan infrastruktur mereka secara signifikan jika mereka menyadari potensi pertumbuhan jangka panjang,” ungkap Hawksworth.

dokumen PWC tahun 2050world-in-2050-february-2015

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melansir, berdasarkan harga berlaku, Pendapatan Domestik Bruto (PDB) per kapita tahun 2016 sebesar Rp47,96 juta atau setara dengan US$3.605,49. Angka ini naik 6,2 persen dari tahun lalu, Rp45,14 juta.

Dengan demikian, selama lebih dari 29 tahun, Indonesia mandek di kelompok negara kelas menengah ke bawah. Padahal, sebelumnya Bank Indonesia (BI) pernah menyatakan jika Indonesia tidak ingin terjebak selamanya dalam kelompok tersebut, maka PDB per kapita Indonesia harus lebih dari US$12 ribu per tahun pada 2030 mendatang.

Melihat hal itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menilai pemerintah perlu mendorong seluruh sektor industri agar nilai tambah perekonomian bergerak positif. Terutama sektor yang banyak menyerap tenaga kerja dan kontribusinya besar terhadap perekonomian.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *