Kubu Prabowo-Sandi Rubah Klaim Kemenangan dari 62% Sekarang 54,24%

37 Views

Masyarakat Indonesia tahu betul semangat capres 02 Prabowo Subianto dalam memperjuangkan kemenangannya di Pilpres 2019. Kita juga tahu sujud syukurnya yang dipertontonkan ke publik pasca mengetahui menang 62 persen versi perhitungan internal meski akhirnya dibantah oleh kolaisinya sendiri yakni Demokrat dengan menyebut 62 persen dari setan gundul.

Soal angka 62% sendiri sebelumnya sempat heboh setelah politisi Demokrat Andi Arief mencuit soal ada ‘setan gundul’ asal-usul pemasok informasi ‘Prabowo menang 62 persen’. Angka itu pun jadi perdebatan.

Namun, bukannya introspeksi, BPN Prabowo-Sandi malah tancap gas terus mendeklarasikan Prabowo-Sandi Presiden RI.

Bahkan pada Selasa (14/5/2019) kemarin, kubu Prabowo-Sandi kembali mengungkapkan kecurangan pemilu 2019 di khalayak luas. BPN 02 mengungkapkan data perolehan suara mereka berdasarkan hitung C1. Hasilnya, Prabowo-Sandi mengungguli Jokowi-Ma’ruf.

Perolehan suara versi hitung C1 BPN itu diungkapkan Prof Dr Laode Masihu Kamaluddin dalam simposium Prabowo-Sandi di Hotel Grand Sahid, Jakarta. Data tersebut merupakan hasil penghitungan C1 dari 444.976 TPS (54,91%) per 14 Mei pukul 12.28 WIB. Total TPS di Pemilu 2019 sebanyak 810.329 TPS

“Maka sistem informasi Direktorat Satgas BPN Prabowo-Sandi dengan ini mengemukakan hasil-hasil perolehan kita. Walaupun sudah dicurangi sebagai berikut,” kata Laode.

Hasilnya, Jokowi-Ma’ruf meraup 44,14%, sedangkan Prabowo-Sandi 54,24%. Sementara itu, dalam diagram tersebut terdapat data suara tidak sah sebesar 1,62%.

Perolehan suara Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi berdasarkan hitung data C1 BPN itu bersifat sementara karena data masuknya baru 54,91%. Berikut ini hasil penghitungan BPN dalam satuan suara:

01. Jokowi-Ma’ruf 39.599.832 suara
02. Prabowo-Sandi 48.657.483 suara

Partai Demokrat (PD) menyoroti perubahan angka klaim kemenangan capres-cawapres yang diusungnya, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, menjadi 54,24%. PD pun menyatakan klaim 62% yang awalnya sempat diucapkan Prabowo tak terbukti.

“Pertama, apa yang disampaikan oleh Partai Demokrat, kalau klaim kemenangan 62% itu berarti kan tidak terbukti dengan munculnya angka baru 54% ini kan,” kata Ketua DPP PD Jansen Sitindaon, Selasa (14/5/19) malam.

Jansen sendiri mengaku tak hadir dalam acara itu karena ditugaskan menjadi saksi pada rekapitulasi di KPU. Dia pun mengingatkan semua pihak menunggu hasil dari KPU dan, jika ada perbedaan data hasil pemilu, nantinya bisa diselesaikan di Mahkamah Konstitusi (MK).

Dari angka itu saja, jelas ada keanehan perihal metode yang dipakai oleh BPN untuk menghitung suara yang diyakini sebagai “suara kemenangan” dari rakyat. Biasanya margin-of-error cuma ada di kisaran 2 persen, akan tetapi ini malah menembus 7 persen lebih.

Mungkin BPN memiliki metode perhitungan khusus yang hanya berlaku untuk Prabowo-Sandi, tidak untuk Jokowi-Ma’ruf. Kalau BPN ditanya siap mengadu data, maka keaslian dan keabsahan data tersebut patut diragukan sebab hasilnya berbeda jauh dengan yang dirilis KPU.

Sementara terkait perkara kecurangan-kecurangan yang sering disampaikan, hingga sekarang tak pernah ada laporan resmi dengan membawa bukti-bukti yang diperlukan.

Menang menang sendiri, rubah rubah sendiri. Sejak awal BPN berupaya membangun opini publik bahwa Prabowo-Sandi memenangkan Pilpres 2019.

Jika Jokowi-Ma’ruf menang, berarti ada kecurangan yang akan dibuktikan BPN berdasarkan temuan mereka di lapangan. Namun, sampai saat ini mereka hanya koar-koar di media dan tidak mampu membuktikan tudingan yang disampaikan.

Artinya, segala upaya yang dilakukan BPN mengidikasikan pihaknya akan menolak hasil perhitungan KPU, yang berarti menodai demokrasi dalam negeri.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *