Ma’ruf Berikan Program Sukses, Sandi Tawarkan Program Gagal

Ma’ruf Berikan Program Sukses, Sandi Tawarkan Program Gagal

283 Kali di Baca

Penampilan cawapres KH Ma’ruf Amin dalam debat memperlihatkan kekompakan visi-misi dengan capres Jokowi. Di sisi yang berseberangan, cawapres Sandiaga Uno justru lebih banyak menyampaikan gagasan pribadi yang tak selaras dengan visi-misi capres Prabowo.

Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Hasto Kristiyanto mengkritik Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 02 Sandiaga Uno yang lebih banyak menyampaikan gagasan pribadinya saat debat ketiga Pilpres 2019.

Hasto menyebut Sandiaga tidak menyatu dengan pasangnnya Prabowo Subianto, hal itu kata dia terlihat saat Sandi menyampaikan visi misi yang dinilainya merupakan gagasan pribadi.

“Visi misi KH Ma’ruf Amin terbukti menyatu dengan Jokowi. Berbeda dengan Sandiaga Uno yang lebih menampilkan gagasan pribadi dengan program usang yang praktis gagal diterapkan, yakni OK-OC”, ujar Hasto seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Tirto, Minggu (17/3/2019).

Hasto mengingatkan bahwa sejatinya tidak boleh seorang wakil presiden punya visi misi sendiri. Visi-misi seorang wakil presiden kata dia harus menyatu dengan presiden.

Ia menyebut Ma’ruf telah menunjukkan visi misi yang sama dan menyatu dengan pasangannya yakni Jokowi. Ma’ruf kata dia menyampaikan visi misi penuh gagasan membumi, menjawab persoalan rakyat melalui Kartu Sembako Murah, KIP Kuliah dan Kartu Pra Kerja.

“Konsistensi KH Ma’ruf Amin menjabarkan program Jokowi dan memberikan sentuhan Islami sangat pas ditampilkan. Apapun pemimpin punya tugas menciptakan kemaslahatan bangsa dan melindungi umat.

Sementara Sandi lebih artificial dibungkus oleh pakaiannya yang terkesan mahal,” katanya.
Gagasan yang diangkat Sandi kata Hasto tidak banyak mengalami perubahan. Menurutnya kritik yang disampaikan Sandi terhadap BPJS tanpa solusi kongkrit.

Pun demikian menururut Hasto upaya Sandi menjadikan OK-OC sebagai program nasional sangat mengkhawatirkan mengingat kegagalan implementasi program tersebut di Jakarta.

“Data menunjukkan dari target OK-OC sebanyak 40.000 per tahun yang mendaftar hanya 1.000 atau 2.5% dan hanya 150 orang yang dapat modal. Ini cermin gagalnya OK-OC,” ujarnya.