Masjid Jangan Jadi Tempat Kampanye dan Menyebarkan Isu Perpecahan

31 Views

Sejumlah pengurus masjid yang tergabung dalam Forum Silaturahim Takmir Masjid (FSTM) meminta partai politik maupun tim sukses calon kepala daerah untuk tidak menjadikan masjid atau rumah ibadah sebagai tempat untuk

Kordinator FSTM se-Jakarta Husni Mubarak Amir menyatakan, masyarakat di Indonesia, khususnya masyarakat di 171 daerah yang akan melaksanakan pemilihan kepala daerah mendatang harus mengambil pembelajaran dari pesta demokrasi yang terjadi pada pemilihan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2017 lalu.

“Ini yang harus diperhatikan, masjid adalah tempat untuk beribadah, tempat untuk berdakwah, tapi dakwah yang dilakukan di masjid-masjid itu seharusnya dakwah yang membawa kedamaian, bukan dakwah menyebar kebencian, apalagi sampai mengarah pada ajakan memilih calon-calon tertentu,” tegasnya dalam acara Halaqoh Takmir Mesjid se-Jakarta di Mesjid Assalafiyah Pangeran Jayakarta, Jakarta Timur, Jumat (26/1/18).

Selain itu ia juga menyampaikan agar para pengurus masjid juga harus memastikan para penceramah atau pengisi kegiatan di masjid-masjid memiliki pemahaman tentang Islam rahmatan Lil Al-Amin. Islam lanjut Husni adalah agama perdamaian untuk seluruh golongan. Sehingga tidak mengotak-kotakan golongan tertentu saat menyampaikan ceramahnya.

“Hal itu membahayakan rasa persatuan dan kesatuan Warga Negara Indonesia sebagai elemen bangsa yang multi-etnis dan agama. Tuduhan-tuduhan kafir, musyrik, dan munafik terhadap pilihan yang berbeda mengindikasikan radikalisme agama telah menemukan momentumnya dalam ruang demokrasi tapi nir logika ini,” katanya.

Masjid memang menjadi salah satu tempat yang strategis dalam menyampaikan sebuah isu-isu tertentu. Kendati demikian, Ketua Dewan Masjid Indonesia DKI Jakarta, KH. Ma’mun Al-Ayubi menegaskan, fungsi masjid seharusnya tidak terjebak pada pragmatisme politik semata.

Karena itu ia meminta kepada seluruh umat untuk mengembalikan fungsi masjid sebagai tempat untuk beribadah.

“Saya mengimbau, di pilkada serentak nanti, mari kita kembalikan fungsi masjid dengan sebenar-benarnya. Jangan ada politisasi masjid di pemilihan kepala daerah di 171 daerah nanti,” Tegasnya.

Selain itu kata dia ada aliran-aliran yang membawa kepentingan tertentu ke dalam masjid, baik itu radikal atau kepentingan politik. Ini membuat munculnya fitnah, caci-maki, ujaran kebencian, bahkan mengkafirkan orang di dalam masjid.

Kondisi ini, kata Makmun, berdampak pada terpecah-belahnya masyarakat, dan sudah keluar dari fungsi masjid. Masjid seharusnya menjadi sumber perdamaian, menerima perbedaan, saling bertoleransi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *