Mengaku Khilaf, Penyebar Hoaks Polisi China Amankan 22 Mei Minta Maaf



94 Kali di Baca

Said Djamalul Abidin (59), pria yang menyebarkan hoaks terkait polisi China yang ikut mengamankan aksi unjuk rasa 22 Mei tak berdaya ketika aparat kepolisian menangkapnya pada Kamis (23/5) malam di Bekasi, Jawa Barat.

Kepada Polisi, Said mengakui perbuatannya. Said juga meminta maaf karena telah menyebarkan hoaks. Dia mengaku khilaf dengan perbuatannya itu.

“Saya menerima berita tersebut dari seseorang, artinya itu bukan kreasi saya cuma saya terus terang khilaf. Saya mohon maaf pada semua pihak terutama polisi karena saya ternyata tidak cermat di dalam memanfaatkan medsos yang ada,” kata Said dalam konferensi pers yang juga dihadirkan ketiga Orang Brimob yang dituduh sebagai polisi negara lain.

Ketiga Polisi tersebut merupakan anggota Brimob dari Sumatera Utara.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo mengatakan Said menyebarkan hoaks melalui grup WhatsApp.

“Tersangka ini menyebarkan berita hoaks yang isi narasinya maupun foto yang sengaja diunggah bahwa aparat kepolisian melibatkan polisi dari sebuah negara dalam rangka untuk menangani demo,” ujar Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (24/5).

Dalam pesannya di Grup WhatsApp itu, Said menyebarkan satu foto selfie yang dilakukan oleh seseorang dengan latar belakang anggota Brimob. Foto itu pun disebarkan dengan narasi, “Info tkp depan bawaslu.. INNALILLAHI WAA INNALILLAHI ROJI’UN Telah gugur saudara kita Eri dari Bantul terkena tembakan Semoga husnul khotimah kader pejuang gerindra… Info lanjut masih menunggu rekan-rekan yang masih di lapangan. Biadap polisi Cina ikut2an apa ini negara.. Apa negara komunis ini.. Siapa yang bolehkan masuk ke Indonesia.”

Sementara itu, Kasubdit II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Komisaris Besar Rickynaldo menjelaskan Said menyebarkan berita bohong tersebut ke tiga hingga empat grup WhatsApp.

“Selfie-nya diunggah bahwa tiga orang di belakangnya adalah polisi di negara lain,” kata Rickynaldo.

Atas perbuatannya, Said dijerat dengan Pasal 45A ayat 2 juncto Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan/atau Pasal 16 jo Pasal 4 huruf b angka 1 UU Nomor 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan atau Pasal 14 ayat 1 dan ayat 2 dan atau Pasal 15 UU nomor 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Sharing sebelum share adalah hal yang paling tepat dilakukan sebelum kita menerima informasi yang disebar melalui media sosial. Karena jika tidak, kita sendiri yang akan menerima dampak hukum dari perbuatan kita sendiri.