Menggugat Penyegelan Masjid Masjid Ahmadiyah Diteror Telur dan Cat



51 Kali di Baca

Menjelang Hari Raya Idul Fitri sekelompok orang tak dikenal telah melakukan aksi teror dengan menyerang rumah ibadah yang digunakan Jemaah Ahmadiyah Indonesia, di Sawangan, Depok, Sabtu 24 Juni 2017 dini hari.

Berdasarkan informasi dari anggota Tim Pembela Kebebasan Sipil Asep Komarudin lewat sebuah pesan singkat menjelaskan bahwa sebelum penyerangan ada tamu tetangga seorang jemaah di Gang Pemuda datang ke masjid pukul 23.30. Tamu yang bernama Kamat itu juga membawa putrinya.

Setelah itu, selang satu jam kemudian terdengar suara lemparan-lemparan di atas genteng rumah. Orang tak dikenal melempar cat dan telur ke arah area masjid.

“Pelaku yang terdiri dari beberapa orang itu meneror di empat titik,” katanya

Asep kemudian menjelaskan, area yang pertama kali dilempari ialah pintu gerbang belakang. Kemudian samping kiri masjid. Lantai lapangan badminton dan keramik terkena cat. Lalu area depan masjid dan gerbang masuk. CCTV yang baru dipasang terlihat berubah arah karena dilempari telur.

Atas peristiwa ini, Tim Pembela Kebebasan Sipil selaku kuasa hukum jemaah Ahmadiyah Indonesia Depok meminta kepada kepolisian untuk memberikan jaminan perlindungan kepada jemaah Ahmadiyah Indonesia di Depok.

Dia juga meminta Presiden Joko Widodo agar dapat memastikan jaminan perlindungan kepada seluruh warga negara tanpa kecuali dalam menganut agama, keyakinan, dan beribadah.

“Kami juga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak terprovokasi atas tindakan teror yang terjadi, tetap tenang untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri 1438 H,” katanya.

Identitas religius dapat menjadi satu dimensi penting dari identitas banyak orang, juga menjadi salah satu lahan utama pemicu konflik. Perbedaan agama kerap menjadi akar konflik itu sendiri.

Dalam kasus Ahmadiyah, yang terjadi memang bukan konflik antaragama, tapi tetap merupakan kasus konflik antar-identitas religius karena Ahmadiyah dianggap memiliki identitas religius yang berbeda dengan identitas religius Muslim arus utama di Indonesia.

Perbedaan itu didasarkan pada adanya pandangan yang cukup fundamental dalam keyakinan Ahmadiyah yang dianggap sangat berbeda dibandingkan Islam arus utama.

Menurut sudut pandang umumnya umat Islam, ajaran Ahmadiyah (Qadian) dianggap melenceng dari ajaran Islam sebenarnya karena mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, hal yang bertentangan dengan pandangan umum kaum muslim, yang mempercayai Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir.

Adapun aksi kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah di beberapa daerah, dan sekarang ini di Depok dapat kita lihat sebagai wujud belum berhasilnya negosiasi identitas yang dilakukan Ahmadiyah.

Penerimaan dan penolakan ini dapat mewujud dalam berbagai bentuk, namun konflik yang mengandung kekerasan jelas bukan satu bentuk yang diharapkan oleh siapa pun.

Alangkah bijak, jika hal tersebut lebih diserahkan penanganannya kepada pemerintah dalam haal ini kepolisian agar tidak terjadi tindakan main hakim sendiri.