Menjaga Momentum Ramadhan Yang Suci, Hidup Tanpa Kebencian Dan Berusaha Saling Mengasihi

358 Views

RadarKontra – Ramadhan telah berlalu, suara adzan kemenangan pun telah berkumandang, umat Islam penuh syukur menikmati sebulan penuh menjalankan ibadah puasa dengan takbir ditiap-tiap mesjid maupun di lapang an

Untaian kata tak terbendung manakala menyambut Hari yang Fitri. Namun, hendaknya rasa syukur itu tetap tertanam meski Ramadhan telah berlalu. Dan kebajikan serta hati yang toleransi sejatinya takan terhapus.

Di Minggu 25 Juni 2017 pagi nan cerah seluruh umat Islam berbondong-bondong menuju Masjid dan lapangan guna menunaikan Sholat Ied menyambut rasa syukur atas Ramadhan yang telah dilalui.

Tidaklah penting soal siapa yang akan ber-Khotbah. Namun, yang terpenting adalah isi dari pesan khotbah yang haruslah mengajak kebaikan demi kemaslakhatan. Akan tetapi, jika lebih kepada ceramah mengandung perpecahan umat, alangkah baiknya dicerna lebih dalam untuk di dengarkan.

Sebagai penceramah sejatinya lebih mengedanpakan pesan yang baik antar umat itu sendiri maupun dengan yang berbeda agama. Karena di negara yang majemuk ini sikap toleransi dan saling menghargai perbedaan sepatutnya dijunjung tinggi dalam binglkai kebhinnekaan.

Kemudian menyampaikan isi pentingnya persatuan, antara lain menghargai perbedaan, kemanusiaan yang adil dan beradab, serta hak dan kewajiban kebangsaan yang sama bagi semua.

Setidaknya inilah yang diharapkan oleh semua umat beragama di muka bumi ini. Terlebih, Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia KH Cholil Nafis telah berpesan sebelumnya, berharap khatib salat Idul Fitri menyampaikan tema ceramah yang sejuk dan ideal.

Hal ini pun menjadi gaung manakala dalam ceramah Idul Fitri yang disampaikan ialah mengenai fitrah manusia.

Dia mengatakan hikmah Idul Fitri agar dapat merefleksikan perbaikan sikap pada Ramadan. Sebab, selama sebulan umat Islam menjalankan puasa dan ibadah lainnya sehingga di hari Idul Fitri ini ibarat kembali sebagai bayi yang baru dilahirkan.

Sebelumnya, Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Ni’am Saleh juga telah mengatakan bahwa ceramah Idul Fitri harus menyampaikan pesan keagamaan yang menyejukkan dan mengajak umat untuk meningkatkan tali silaturahmi.

Inilah momentum dari sebuah perjalanan Ramadhan yang suci, tanpa kebencian dan saling mengasihi seperti yang dikatakan Menteri Agama Lukman Hakim seusai menyatakan penetapan bulan satu Syawal 1438 Hijriah.

Dalam konteks Idul Fitri, Quraish Shihab juga mengingatkan arti kata fithri atau fithrah yang berarti “asal kejadian”, “bawaan sejak lahir”. Selain itu Fitri juga berarti “suci” karena seluruh manusia awalnya dilahirkan dalam keadaan suci bebas dari dosa. Fithrah juga berarti “agama” karena melalui agama, seseorang mampu mempertahankan unsur kesuciannya tersebut.

Dalam khutbah nya saat menjadi khatib salat Ied di Masjid Istiqlal, Quraish Shihab mengingatkan bahwa Islam tidak melarang umat untuk berkelompok dan berbeda. Yang dilarang oleh Allah adalah, jika berkelompok dan berbeda itu menyebabkan terjadinya perselisihan.

Keragaman dan perbedaan menurutnya adalah keniscayaan yang dikehendaki Allah untuk seluruh makhluk, tidak terkecuali manusia.

Tanah air yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, harus dibangun dan dimakmurkan serta dipelihara persatuan dan kesatuannya. Karenanya Quraish mengingatkan pentingnya persatuan dan kesatuan yang merupakan anugerah dari Allah.

Sebaliknya, perpecahan dan tercabik-cabiknya masyarakat adalah bentuk siksa Allah. Terakhir dalam isi ceramahnya, bahwa Idul Fitri adalah momentum untuk saling memaafkan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *