Muhammadiyah Serukan Boikot Starbucks

219 Views

Pimpinan Pusat Muahammadiyah meminta kepada pemerintah untuk melakukan langkah tegas terhadap Sturbucks yang dinilai telah mendukung kesetaraan kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT).

Bahkan Seruan boikot terhadap Starbucks pun makin kencang dilontarkan dikalangan masyarakat. Tentunya seruan ini sangat mendasar dikarenakan LGBT dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut bangsa Indonesia.

Selain itu, ideologi bisnis ataupun cara pandang yang dikampanyekan Schultz jelas tidak sesuai dan sejalan dengan ideologi bangsa, yakni Pancasila.

Karena Indonesia bukan Amerika dan bukan pula Belanda, yang secara terang-terangan melegalkan LGBT.

Sementara di Singapura telah membuat aturan hukum yang jelas bahwa LGBT diancam pidana 2 tahun dan sangat dilarang.

Sebagai bangsa beragama, dan melalui proses pemikiran panjang, Ketua bidang ekonomi PP Muhammadiyah Anwar Abbas menegaskan sudah saatnya pemerintah Indonesia mencabut ijin Starbucks di Indonesia.

“Kita sebagai bangsa, jelas-jelas tidak akan mau sikap dan karakter kita sebagai bangsa yang beragama dan berbudaya rusak dan berantakan karena kehadiran mereka,” tegasnya dalam keterangan tertulis, Kamis (29/6).

Terkait pencabutan izin usaha, Anggota Komisi I DPR Bobby Adhityo Rizaldi mengatakan hal itu tidak semudah yang dibayangkan. Dia beranggapan, perlu aturan hukum yang jelas bahwa aktivitas dukungan terhadap LGBT adalah bertentangan dengan hukum.

Namun demikian, pencabutan izin usaha tentunya akan berdampak pada pengurangan karyawan.

Senada dengan Anwar, Sekertaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia, Teuku Zulkarnain menyatakan bahwa kedai kopi Starbucks yang banyak tersebar di Indonesia harus segera diboikot perizinannya.

Zulkarnain menilai, semua agama tidak membenarkan adanya pergerakan LGBT, lantaran hal itu merupakan penyakit sosial yang harus dihilangkan di tengah-tengah masyarakat.

“Wajib diboikot karena secara jelas mendukung pergerakan kaum LGBT. LGBT dilaknat semua agama, jika ada yang membela dipastikan bukan orang beragama,” tegasnya

Seperti diketahui, sejak 26 Juni 2015 CEO Starbucks, Howard Mark Schultz telah mendukung kesetaraan kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT).

Dan yang terbilang cukup baru pada Minggu (25/6) kemarin, ketika pertemuan dengan para pemilik saham Starbucks, Schultz secara tegas mempersilakan para pemegang saham yang tidak setuju dengan pernikahan sejenis silakan angkat kaki dari Starbucks.

Meski mendapat kecaman, Starbucks Indonesia memastikan tetap sejalan dengan pihak manajemen pusat Starbucks di Amerika Serikat (AS) yang memberikan dukungan terhadap LGBT.

Hal ini sebagaimana disampaikan pihak Starbucks Indonesia melalui Marketing Communications & CSR Manager, PT Sari Coffee Indonesia, selaku pemegang lisensi Starbucks Indonesia, Yuti Resani. Pihaknya, diungkapkan Yuni tetap menghargai keragaman dan kesetaraan dan berkomitmen sejalan dengan kebijakan manajemen.

Dilihat dari sisi moral maupun agama, LGBT tidak dapat dibenarkan apalagi jika komunitas ini mendapat ruang dan melebarkan sayap di negeri ini. Dikhawatirkan LGBT akan berpengaruh buruk bagi generasi mendatang. Sebab, orientasi seks kelompok ini sangat menyimpang.

Namun demikian, persoalan ini hendaknya diserahkan kepada pemerintah dan aparat penegak hukum dalam mengambil langkah yang tepat. Tentunya pemerintah sangat menyadari setiap aspirasi masyarakat terkait LGBT ini.

Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu mengambil sikap main hakim sendiri dalam menangani persoalan tersebut. Peran tokoh masyarakat dan tokoh agama diharapkan memberikan pemahaman serta pendidikan agama kepada masyarakat agar tidak terseret dalam arus LGBT.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *