Papua Berpotensi Dipecahbelah Keterlibatan dan Gerakan HTI Rusuhkan Papua Makin Nyata

1,117 Views

Kelompok-kelompok paham radikalisme pengusung khilafah seperti tidak akan pernah berhenti untuk terus melemahkan pemerintah untuk mencapai tujuan utamanya melemahkan dan memporakporandakan NKRI. Keterlibatan HTI bersama FPI dalam kerusuhan di Papua semakin nyata dan terang benderang.

Keberadaan mereka sebenarnya telah ditolak sejak lama di bumi Papua, hal tersebut terungkap saat Gubernur Papua Lukas Enembe menegaskan dan mendukung organisasi radikal harus segera dibubarkan dan dikeluarkan dari Bumi Cenderawasih karena bisa menghancurkan kerukunan hidup umat beragama yang telah tercipta dengan aman dan damai.

Pernyataan ini disampaikan oleh Lukas Enembe disela-sela menerima aksi demo damai menolak Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dilakukan oleh ratusan warga Papua di Kota Jayapura yang datang dari berbagai organisasi kemasyarakatan yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Cinta Damai dan Keberagaman di halaman kantor gubernur, Senin (8/5/2017).

“Saya minta tidak ada HTI di Papua, mereka harus tinggalkan Papua, karena Papua ini tanah damai,” katanya.

ÔÇťApalagi Papua memiliki sejarah dan gejolak antara kelompok yang pro kemerdekaan dan pro NKRI. Sehingga bila ada kelompok macam ini lagi, nantinya akan berbahaya. Sehingga masyarakat tak berdosa pun yang bakal menjadi korban,” lanjut dia.

Kekhawatiran Gubernur Papua ini tersebut menjadi kenyataan saat isu rasis diprovokasi kelompok-kelompok radikal tersebut pada saat kerusuhan di provinsi Papua dan Papua Barat yang menjadi basis mereka.

Menurut Lukas, organisasi radikal dan bertentangan dengan idiologi bangsa yakni Pancasila dan UUD 1945 sudah sepantasnya dibubarkan, karena akan mempengaruhi masyarakat luas dan bisa berujung pada disintegrasi bangsa.

Provokasi kelompok HTI dan pendukung khilafah semakin terbukti saat mereka menghajar Banser yang selalu menjadi barisan terdepan melawan kelompok mereka. Mereka merekayasa isu bahwa warga Papua menginginkan pembubaran Banser padahal pada faktanya kelompok merekalah yang selama ini ditolak di bumi Papua dan diseluruh Indonesia.

Kelompok HTI dan seluruh ormas radikal lainnya seperti FPI dan gerakan-gerakan yang mengusung paham radikalisme sudah semestinya ditindak oleh pemerintah saat ini, karena mereka telah terbukti terus mengacaukan dan mengganggu stabilitas keamanan dan pertahanan Indonesia khususnya di Papua baru lalu.

Mereka terbukti memprovokasi masyarakat Indonesia untuk membenci orang Papua terkait insiden bendera merah putih yang tidak jelas kasusnya. Mereka lalu memfitnah banser sebagai pelaku provokasi di Asrama Papua padahal pada kenyataannya tak seorangpun anggota Banser di Asrama Papua tersebut. Justru kelompok afiliasi mereka seperti FPI nyata hadir dan mengenakan seragamnya.

Pemerintah Indonesia kini saatnya bertindak tegas kepada oknum-oknum dan simpatisan HTI yang masih terus bergerilya untuk melemahkan NKRI yang dimulai dari Papua yang dianggap mereka berpotensi untuk diprovokasi terutama isu rasis seperti terjadi kemarin. Isu agama yang dimainkan oleh kelompok tersebut kini tak laku lagi sehingga mereka akan terus bermain di ranah sensitif konflik seperti isu SARA

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *