Papua Damai Tanpa Provokator dan Intervensi Asing

561 Views

Ricuh Papua Ulah Provokator

Masalah Papua merdeka sampai saat ini masih menjadi keinginan sekelompok kecil orang-orang asli Papua yang berbeda pandangan dengan NKRI, sehingga mereka terus melakukan berbagai cara dan upaya untuk mencapai keinginan mereka.

Isu tersebut bahkan sudah sejak lama selalu diangkat dan diramaikan. Namun keinginan itu tak lepas dari ulah para provokator dan intervensi asing yang mencoba mencari keuntungan dari peristiwa yang berawal di Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Dugaan tindakan rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur berbuntut panjang. Gelombang demonstrasi di tanah Papua pun terus terjadi hingga Kamis (29/8/2019).

Menanggapi kerusuhan di Papua, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto pun angkat bicara.

Wiranto menyebut bahwa pemerintah sudah mengetahui siapa pihak yang menunggangi kerusuhan di Papua dan Papua Barat akhir-akhir ini. Termasuk juga siapa penumpang gelap yang menunggangi kerusuhan di Papua dan Papua Barat.

“Memang rusuh ini ada yang menunggangi, mengompori, memprovokasi, ada yang sengaja dorong terjadi kekacauan,” kata Wiranto saat konferensi pers usai rapat terbatas bersama Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (30/8).

Sebelumnya, beberapa media baik dari dalam maupun luar negeri memberitakan ada enam hingga tujuh korban yang tewas akibat kontak senjata Deiyai pada Rabu (28/8).

Namun Wiranto menjamin bahwa aparat TNI dan Polri akan ditarik apabila kondisi di Papua dan Papua Barat sudah kondusif.

Menurut Wiranto, aparat TNI dan Polri yang dikirimkan ke Papua dan Papua Barat tidak lain untuk mengamankan masyarakat, bukan untuk melakukan tindakan represif.

Wiranto juga menyampaikan, sebaiknya masyarakat di Papua dan Papua Barat lebih mengedepankan proses dialog, bukan dengan kekerasan.

“Semuanya harus kita selesaikan dengan dialog, bukan dengan demo dan merusak,” ujar Wiranto, Jumat (30/8).

Sebelumnya Presiden Jokowi saat menggelar rapat terbatas terkait penanganan di Papua meminta agar aparat keamanan terus menjaga keamanan dan ketertiban di Bumi Cendrawasih itu.

Jokowi meminta agar siapapun yang melanggar hukum ditindak tegas. Tidak ada toleransi bagi perusuh dan pihak yang berbuat anarkis.

“Memerintahkan aparat keamanan menindak tegas siapa pun yang lakukan tindakan rasialis dalam bentuk apapun dan saya dapat laporan hukum dilakukan baik aparat hukum maupun oknum sipil maupun militer yang lakukan tindakan itu juga dikerjakan tanpa kecuali,” tegas Jokowi.

Papua Kondusif

Setelah serangkaian kericuhan dan ulah provokator yang terus memamanasi situasi Papua dan Papua Barat, Wiranto mengklaim kondisi keamanan di Papua dam Papua Barat kini cenderung kondusif dan berangsur normal.

Klaim ini didasari dengan laporan dari sejumlah instansi yang bertanggungjawab terkait kondisi keamanan di sana. Dari laporan itu, kata Wiranto, masyarakat yang terdampak kerusuhan sudah mulai beraktivitas kembali.

“Aktivitas di Provinsi Papua di Jayapura berangsur-angsur pulih, normal. SPBU sudah berjalan artinya sudah menjual bahan bakar. Pertokoan, perkantoran mulai buka. Angkutan umum mulai beroperasi, hanya sekolah masih diliburkan,” kata Wiranto di media center Kemenkopolhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (2/9/2019).

Bahkan lanjut Wiranto menjelaskan tokoh masyarakat yang ada di Papua dan Papua Barat juga sudah duduk bersama untuk meredam suasana. Semua telah bersepakat untuk mengakhiri suasana panas, termasuk gesekan terhadap warga pendatang dengan paguyuban Organisasi Asli Papua (OAP).

“Semua sudah sepakat untuk menghentikan (ketegangan) itu,” kata dia.

Sedangkan di Papua Barat, kata Wiranto, kondisinya tak jauh berbeda dengan di Papua. Aktivitas masyarakat sudah berlangsung normal dan perbaikan fasilitas umum maupun bangunan yang terdampak kerusuhan telah dilakukan.

“Sudah ada pula penggantian kerusakan (yang diderita) masyarakat di sana,” ujarnya.

Demi Papua Damai

Untuk menciptakan Papua tetap damai, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto berangkat ke Papua, Senin (2/9) sore dan berkantor di sana untuk jangka waktu yang belum ditentukan. ”Tergantung perkembangan situasi di sana,” kata Panglima TNI, kemarin.

Panglima Hadi mengatakan, selama berada disana akan memantau situasi di Papua terkini dari jarak lebih dekat. Menurutnya secara fisik akan sangat memudahkan dalam proses pengambilan keputusan.

”Karena itu, kami akan berkantor di sana dan berapa lamanya tergantung perkembangan situasi,” tegasnya.

Terkait dengan pengamanan Papua terkini, saat ini tercatat sekitar 6.000 pasukan gabungan TNI-Polri diperbantukan untuk menjaga wilayah timur Indonesia tersebut. Mereka disebar di beberapa titik di antaranya Jayapura, Nabire, Paniai, Deiyai, Manokwari, Sorong dan Fakfak.

Selain Panglima TNI, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian juga bakal ngantor di Papua. Kadiv Humas Polri Irjen Pol Mohammad Iqbal mengatakan, Kapolri dijadwalkan berangkat ke Papua bersama Panglima TNI sebagai upaya untuk menjamin keamanan dan ketertiban.

”Untuk melakukan pengendalian, dialog dengan beberapa tokoh penting. Tujuannya untuk menjamin keamanan agar situasi kembali kondusif, walaupun saat ini sudah relatif kondusif,” kata Iqbal di Mabes Polri, Jakarta.

Saat ini menurut Iqbal, situasi terkini di Papua dan Papua Barat telah kondusif. Puing-puing fasilitas umum yang sempat dirusak massa telah dibersihkan oleh TNI-Polri bekerja sama dengan pemda dan elemen masyarakat.

Dengan kesigapan aparat keamanan serta keberadaan Panglima TNI dan Kapolri tentu akan membuat Papua dan Papua Barat semakin aman dan damai. Karena itu diharapkan agar masyarakat tetap menjaga persaudaraan dan persatuan. Hal itu jelas akan membuat para provokator semakin tak berkutik . Karena jika masyarakat Papua bersatu maka tidak akan ada satupun yang dapat memisahkan Papua dari NKRI.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *