Parah Cawapres Asal Ngecap Tanpa Data, Sandiaga Uno Sebar 1000 Titik Hoax Lokasi Kunjungan Kampanye



Wartakota – Politikus Partai Hanura sekaligus Ketua Fraksi Partai Hanura di DPR RI, Inas N Zubir, menganggap klaim cawapres no urut 02 Sandiaga Uno yang telah mengunjungi hingga 1000 titik kunjungan yang telah ia lakukan sejak Agustus 2018 hingga Januari 2019, di akun Instagramnya adalah berlebihan alias hoax.

“Persoalannya, apakah Sandiaga sosialisasinya dari satu titik ke titik lain pake simsalabim, lalu sampai ke titik berikutnya, atau terbang seperti burung,” kata Inas di Jakarta, Sabtu, 12 Januari 2019.

Menurut Inas, apabila benar-benar melakukan sosialisasi dengan baik di setiap lokasi, maka setidaknya membutuhkan waktu dua jam. Dari mulai tiba di lokasi hingga meninggalkan lokasi acara. Jika di tempat acara butuh dua jam dan di perjalanan dua jam, maka butuh waktu untuk setiap titik adalah empat jam.

“Jika dalam satu hari hanya bisa dijangkau lima titik saja, maka total waktu yang dibutuhkan adalah 20 jam dan sisa empat jam dalam sehari untuk istirahat. Klop kan?” kata dia.

Ia menjelaskan untuk memenuhi 1.000 titik dibutuhkan waktu 1.000 dibagi 5 yakni 200 hari. “Nah, mulai kebuka nih ngibulnya Sandiwara Uno, eh Sandiaga Uno,” kata Inas.

Kemudian Inas mempertanyakan apakah Sandiaga bersosialisasi setiap hari dalam arti 30 hari dalam sebulan. “Paling top dalam sebulan hanya 20 hari bersosialisasi. Jadi membutuhkan waktu 10 bulan untuk mencapai 1.000 titik,” ucapnya.

Sekitar 10 bulan yang lalu, lanjutnya, adalah bulan April 2018. Sedangkan pertama kali Sandiaga Uno dipilih jadi cawapres oleh Prabowo pada bulan Agustus 2018, dan mereka ditetapkan sebagai capres-cawapres pada bulan September 2018.

“Artinya, 1.000 titik yang dirayakan oleh Sandiaga adalah 1.000 titik hoax,” tegasnya.

Sebelumnya, Sandiaga Uno mengungah video di Instagramnya. Di video tersebut Sandiaga menyampaikan capaiannya terkait 1.000 titik kunjungan yang telah ia lakukan sejak Agustus hingga Januari 2019.

Syukur alhamdulillah atas 1.000 titik kunjungan saya dalam menyerap aspirasi masyarakat Indonesia. Tanpa dukungan serta doa dari masyarakat perjuangan ini tiada artinya.

Di bawah kendali Prabowo-Sandi, kami akan hadirkan pemerintahan yang kuat dan tegas serta memberikan solusi terhadap permasalahan ekonomi yang dirasa makin menyulitkan masyarakat.

Mari kita terus tingkatkan semangat ini, sampaikan kepada seluruh masyarakat bahwa fokus kita ialah perbaikan ekonomi, dengan membuka lapangan kerja seluas-luasnya untuk putra-putri bangsa, dan menghadirkan harga-harga bahan pokok dan biaya hidup yang lebih terjangkau. #1000TitikSandi.

Terkait tanggapan anak buah Ketum DPP Hanura, Oesman Sapta Odang (OSO) Sandiaga menegaskan bahwa kegiatan dirinya dapat dan sudah diverifikasi oleh KPUD. Catatan 1.000 titik itu juga akan diaudit lagi.

“Semua titik itu diverifikasi oleh KPUD dan semua nanti akan siap diaudit,” tukasnya.

Tantangan Sandi agar berdasarkan verifikasi Pemilu justru akan membuktikan bahwa 1000 titik kunjungan tersebut adalah Hoax semata, karena kenyataannya periode kampanye pilpres 2019 baru dimulai pada hari Minggu 23 September 2018 yang tentunya harus dilaporkan kepada KPUD setempat.

Sehingga bila Sandiaga Uno ini melaporkan kegiatan kampanya di luar jadwal seperti klaimnya dimulai di bulan Agustus tersebut tentunya harus ditindak tegas karena berkampanye diluar jadwal yang telah ditetapkan dan disetujui bersama.

Demikian pula bila menghitung jumlah hari sejak 23 September 2018 Hingga tanggal 7 Januari 2018 saat pasangan Prabowo ini mengklaim telah berhasil mengunjungi seribu titik berarti ada 107 jumlah hari tersebut.

Seribu kali kunjungan dibagi jumlah hari masa kampanye resmi 107 tersebut, berarti Sandi harus mengunjungi 9 hingga 10 titik kunjungan per hari tanpa tidur dan istirahat sama sekali.

Tentunya selain persoalan jumlah, kuantitas kampanye belum tentu menjamin kualitas, karena meskipun kampanye di ribuan titik jika tidak mampu menyentuh hati dan merebut kepercayaan masyarakat, maka hanya melakukan pekerjaan sia-sia.

Belum tentu massa kampanye yang hadir betul-betul mendukung Prabowo-Sandi. Bisa saja mereka massa bayaran atau hanya sekedar mencari sensasi dan ikut-ikutan atau para figuran untuk mendukung banyak skenario dan sandiwara yang telah ditunjukkan selama ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *