Penghargaan Benny Wenda Oleh Oxford Meruncing Pada Kerusuhan di Papua, Hizbut Tahrir Berperan

Penghargaan Benny Wenda Oleh Oxford Meruncing Pada Kerusuhan di Papua, Hizbut Tahrir Berperan
1,129 Views

Konflik di Indonesia seperti di beberapa wilayah tak leepas dari peranan para pemberontak asal Timur Tengah. Tak bisa dipungkiri serangkaian peristiwa selalu saja muncul gerakan yang dibelakangnya adalah kelompok yang berafiliasi dengan ISIS ataupun Hizbut Tahrir.

Keberadaan Hizbut Tahrir (HT) di dunia sudah semakin mengkhawatirkan dan harus terus diwaspadai. Hizbut Tahrir adalah gerakan yang “haus kekuasaan” berkedok agama dengan dalih menegakkan khilafah. Indonesia sendiri menjadi negara ke-21 yang melarang Hizbut Tahrir karena dianggap mengancam kedaulatan, keterlibatan dalam kudeta hingga keterlibatan dalam aksi terorisme.

Hizbut Tahrir juga diketahui telah bertindak melakukan kudeta di beberapa negara, termasuk negara timur tengah namun justru bebas di Inggris dan Amerika.

Dari penjelasan diatas terdapat kecenderungan bahwa keberadaan Hizbut Tahrir di dunia mendapat sokongan dan bantuan dari Amerika dan Israel, bahkan disebut pernah bekerjasama dengan agen Intelijen Inggirs M16.

Menurut penulis dan Profesor ekonomi Michel Chossudovsky, Ikhwanul Muslimin (IM) dan Hizbut Tahrir (HT) termasuk dua organisasi yang ikut terlibat dalam unjuk rasa di Suriah pada Maret 2011 yang kemudian berkembang menjadi konflik hingga sekarang.

Chossudovsky juga menyebut bahwa HT pernah bekerja sama dengan intelijen Inggris MI6, seperti dilansir Global Research, Mei 2011. HTI telah bermain dengan antek Inggris saat kerusuhan Papua beberapa waktu lalu dengan berusaha meneriakkan pembubaran NU yang merupakan ormas konsisten dengan keutuhan NKRI.

Jadi, jika ada yang koar-koar bahwa pemerintahan Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi difitnah anti Islam karena membubarkan HTI, maka bisa dipastikan bahwa mereka “sakit jiwa” karena mereka hanya berani koar-koar setelah HTI dilarang di Indonesia, tetapi mereka pura-pura buta mata, tuli dan bisu karena Hizbut Tahrir sebenarnya sudah dilarang di banyak negara sebelum Indonesia!

Berikut adalah beberapa negara yang melarang Hizbut Tahrir, antara lain Arab Saudi, Turki Suriah, Libya, Mesir, Yordania, Bangladesh, China, Jerman, Kazakhstan, Kirgiztan, Lebanon, Pakistan, Rusia, Tajikistan.

Pertanyaan sedehana, jika Hizbut Tahrir dilarang di banyak negara, lalu kenapa Hizbut Tahrir masih ada di Amerika dan Inggris?Lalu, apa kaitannya dengan kasus Papua?

Jawabannya sangat sederhana. Kita tentu masih ingat penghargaan ke Benny Wenda yang diberikan Oxford.

Pemberian tersebut jelas mengurangi kredibilitas Oxford sebagai pusat pendidikan terkemuka di dunia. Oxford menilai Benny secara salah kaprah.

Pemberian penghargaan kepada orang yang memiliki catatan kriminal tersebut melalui gerakan separatis bersenjata menunjukkan ketidakpahaman Dewan Kota Oxford terhadap sepak terjang yang bersangkutan selama ini dan kemajuan pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat yang sebenarnya.

Adanya penghargaan tersebut justru akan memberikan legitimasi untuk terus meningkatkan tindakan kekerasan bersenjata terhadap warga sipil dan masyarakat.

Untuk itulah Pemerintah Indonesia mengecam keras penghargaan ke Benny Wenda yang diberikan Oxford.

Untuk lebih nyambungnya saat kerusuhan Papua, muncul teriakan bubarkan Banser yang merupakan bagian dari NU yang merupakan ormas Islam terbesar di Indonesia dan sangat konsisten dengan keutuhan NKRI?

Padahal Gubernur Papua sudah meminta HTI keluar dari Papua sejak tahun 2017. Sejumlah ormas di Papua juga pernah meminta aktivitas HTI di sana untuk dilarang.

Selain itu Hizbut Tahrir juga pernah bertemu dengan Intelijen Inggris dan sampai sekarang Hizbut Tahrir bebas berkeliaran di Inggris, dan HTI koar-koar agar Banser dibubarkan saat kerusuhan Papua kemarin.

Jadi jelas bahwa ada “antek” Inggris bermain saat kerusuhan Papua kemarin!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *