Penghinaan Ulama dalam Puisi Doa yang Ditukar



23 Kali di Baca

Wartakota – Makin banyak kiai dan ulama yang mengecam puisi ‘Doa yang Ditukar’ karya Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon. Puisi yang menyebut “doa yang bisa dibayar” itu dianggap menghina Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar, Rembang, Jawa Tengah, Maimoen Zubair atau Mbah Moen.

Kecaman terbaru datang dari Ketua I Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sukabumi, Apep Saefulloh. Menurut Apep, puisi Fadli Zon sangat menghina ulama sekaligus menambah perkeruh permasalahan jelang Pilpres 2019. Apep menyarankan Fadli tak perlu mengucapkan sesuatu yang menyinggung bahkan menyerang seorang ulama besar. Hal itu tak menghasilkan sesuatu yang baik untuk demokrasi di Indonesia.

“Hal-hal yang tidak perlu diucapkan apalagi ini menyerang seorang ulama besar ini tidak akan baik terjadinya demokrasi di Indonesia ini,” kata dia.

Apep menilai bahwa sosok Mbah Moen sangat dihormati di kalangan umat Islam se-Indonesia. Sebab, Mbah Moen sendiri merupakan seorang ulama besar dan sesepuh dari partai Islam tertua di Indonesia, PPP.

“Di mana kiai sepuh yang berdoa begitu ikhlas tapi dipelintir, bahwa itu merupakan doa yang dibayar padahal saya lihat Mbah Maimoen itu orang yang ikhlas” kata dia. Apep pun mendukung langkah ribuan santri di Kabupaten Kudus yang menggelar aksi damai di depan alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Jumat (8/2) untuk memprotes Fadli Zon.

Baginya, protes para santri itu wajar sebagai bentuk kecintaan dan loyalitasnya kepada sosok ulama besar sebagai pewaris nabi ketika dihina oleh seseorang tak bertanggung jawab.

Puisi doa yang ditukar sebelumnya dikritik oleh sejumlah pihak. Mereka menuding Fadli telah menyindir Mbah Moen. Namun, Fadli menepis, jika kata ganti ‘Kau’ dalam puisi bukanlah Mbah Moen, melainkan ‘penguasa dan makelar doa’. Mbah Moen sebelumnya terekam salah menyebut nama saat membacakan doa di sebelah capres petahana Jokowi yang sedang berkunjung ke Ponpes Al Anwar, Rembang, Jawa Tengah, 1 Februari 2019.

Dalam video itu, Mbah Moen menyebut nama Prabowo. Belakangan, Mbah Moen mengakui bahwa dirinya salah menyebut nama. Ketua Majelis Syariah PPP itu pun menegakan setiap kader partai berlambang Ka’bah itu mendukung Jokowi dalam Pilpres 2019.

Fadli Zon sebelumnya menyatakan dirinya meminta agar puisinya dibaca dengan seksama. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu juga meminta agar semua pihak menggunakan akal secara proporsional dalam melihat peristiwa yang sedang terjadi.

“Enggak ada penghinaan kepada kiai apalagi pada Mbah Moen. Mari kita gunakan akal kita dengan proporsional,” kata Fadli.

Sebelumnya, pimpinan Pondok Pesantren Roudlotul Hasanah Subang KH Mochammad Abdul Mu’min juga menyebut Fadli Zon tidak etis. Menurutnya, wakil ketua umum Partai Gerindra itu sudah tak beradab karena mempolitisasi insiden salah ucap doa Mbah Moen melalui puisi yang dipublikasikannya di media sosial.

“Saya sudah baca puisi Fadli itu. Isinya merendahkan ulama dengan mengatakan doanya ditukar. Para politikus jangan kurang ajar pada ulama. Pesantren itu sudah berumur ratusan tahun sementara politikus bari lahir kemarin sore,” ujar Kiai Mu’min kepada awak media, Senin (4/2).

Ulama yang lebih kondang dengan panggilan Maung Subang itu menuturkan, Mbah Moen adalah ulama karismatik yang dihormati karena kelimuan dan kealimannya. Karena itu Kiai Mu’min menganggap Fadli dengan menulis ‘Puisi yang Ditukar’ sama saja tidak menghormati ulama.

“Rasulullah memerintahkan agar kami menghormati ulama, takzim kepada ulama, karena ulama adalah yang mengurus umat dan yang memerdekakan republik ini,” katanya. Kiai Mu’min mengingatkan semua pihak tidak ikut-ikutan mempermainkan ulama seperti yang dilakukan Fadli dengan puisinya. “Setiap sesuatu jika dipandang dengan hati benci, jangankan yang salah, yang benar pun disalahkan,” pungkas pengurus NU Subang tersebut.

Adapun terkait puisi ini, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin sempat bertanya kepada Fadli. Melalui media sosial, Lukman mempertanyakan siapa yang dimaksud dengan ‘kau’ dalam puisi itu. Apakah untuk KH Maimoen Zubair atau bukan. Fadli menyangkalnya. Dia mengatakan ‘kau’ dalam puisinya ditujukan buat penguasa dan makelar doa. (*)