Penjelasan Wasekjen PAN Terkait Kekalahan Prabowo-Sandi di MK Bikin Sakit Hati

Penjelasan Wasekjen PAN Terkait Kekalahan Prabowo-Sandi di MK Bikin Sakit Hati

143 Kali di Baca

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN) Faldo Maldini membeberkan beberapa analisanya terkait peluang paslon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Mahkamah Konstitusi.

Faldo mengatakan salah satu alasannya berdasarkan data suara kekalahan Prabowo. Secara kuantitatif, kekalahan Prabowo-Sandi sekitar 17 juta suara. Untuk membuktikan terjadi kecurangan itu, tim Prabowo harus dapat membuktikan sebanyak 50 persen dari 17 juta suara tersebut.

Dari 17 juta itu kata Faldo masih dibagi jadi dua. Contoh, butuh 8,5 tapi setidaknya 02 butuh sembilan juta bahwa ada potensi kecurangan dalam perhitungan yang harus dibuktikan dengan C1 asli yang dimiliki oleh saksi.

“Di video ini, gua akan menjelaskan tentang peluang Pak Prabowo di MK, dan menurut gua Pak Prabowo-Sandi enggak akan menang di MK,” ungkapnya melalui video yang diunggah di akun media sosial pribadi.

mengatakan jika pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno tidak akan memenangkan gugatan pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK).

Hal tersebut disampaikan Faldo melalui unggahan video di akun youtube pribadinya. Faldo memaparkan alasan ucapannya itu melalui video dan meminta supaya pengguna media sosial menonton video itu hingga selesai.

“Di video ini, gua akan menjelaskan tentang peluang Pak Prabowo di MK, dan menurut gua Pak Prabowo-Sandi enggak akan menang di MK,” ungkapnya melalui video yang diunggah di akun media sosial pribadi.
ujarnya, Senin (17/6).

Lebih lanjut kata Faldo, untuk mendapatkan sembilan juta suara itu harus dibagi rata setiap TPS. Dia pun mencontohkan dengan memasukkan angka 250 suara di setiap TPS. Selanjutnya, sembilan juta dibagi dengan jumlah angka di setiap TPS sehingga mendapatkan 36 ribu TPS yang menunjukkan Prabowo menang 100 persen.

“Bayangin kalau misalkan menangnya enggak 100% berarti TPS-nya harus di atas 36 ribu dong. Kalau misalnya Prabowo-Sandi cuma menang 50 persen di 36 ribu itu, maka ada penjumlahan jumlah TPS yang lo butuhin C1-nya, kalau seandainya menangnya tidak 100%. Semakin kecil kemenangan Prabowo-Sandi semakin banyak TPS yang dibutuhin,” ujarnya.

Faldo menilai, jika MK mengabulkan gugatan Prabowo maka pihak 02 harus membuktikan kecurangan itu dan dilakukan pemungutan suara ulang.

Selain itu ada juga diskualifikasi. Namun Faldo menilai diskualifikasi tidak juga akan menjadikan Prabowo sebagai presiden. Namun KPU akan kembali melakukan proses pemilu ulang.

Hal tersebut dapat berdampak pada kekosongan pemimpin negara yang nantinya dapat diisi oleh Menteri Keuangan, Menteri Pertahanan atau Menteri Luar Negeri. Namun, proses panjang akan terjadi jika MK mengabulkan gugatan Prabowo. Faldo menilai Prabowo sudah menyadari hal itu.

“Makanya feeling gua Pak Prabowo sudah membaca hal ini dan dengan jiwa kesatria beliau mengatakan “sudahlah tolong doakan, dan jangan beramai-ramai ke MK”, menurut gua sikap kesatria karena memang jalan ke MK adalah jalan konstitusional yang dipilih oleh Prabowo-Sandi dan kita harus menghargai hasilnya,” ucapnya.

Meski demikian, kata Faldo, Prabowo telah berusaha untuk membuktikan kebenaran. Meskipun, menurut dia, hakim MK punya versi kebenaran yang lain.

Tak kalah pentingnya Faldo juga menjelaskan soal ucapan kuasa hukum Prabowo-Sandi, Bambang Widjojanto (BW) di MK terkait ketidakpercayaan pada proses pemilu. Faldo menilai hal itu sebagai delegitimasi pemilu pada pemenangan 01 yaitu Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

“Menurut gue 01 punya PR untuk memulihkan kembali trust publik. Pendukung 02 itu adalah warga negara Indonesia yang dibutuhkan perannya untuk membangun Indonesia ke depan,” kata dia.

Karena itu diharapkan kepada kubu 02 dan para pendukungnya sebaiknya legowo dan ikhlas apapun keputusan MK sebab kemungkinan kecil Prabowo-Sandi dapat memenangkan gugatan.