Polisi Gunakan Pasal Makar terhadap Pria yang Ancam Penggal Kepala Jokowi



316 Kali di Baca

Hermawan Susanto (25), pria yang mengancam memenggal kepala Presiden Joko Widodo ditetapkan sebagai tersangka setelah Polisi menangkap dirinta di Perumahan Metro, Parung, Kabupaten Bogor.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menyatakan, Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya telah melakukan penangkapan terhadap pelaku tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara dan tindak pidana di bidang ITE dengan modus pengancaman pembunuhan terhadap Presiden RI.

“Sebagaimana dimaksud dalam pasal Pasal 104 KUHP dan Pasal 27 ayat 4 juncto Pasal 45 ayat 1 UU ITE,” kata Argo, Minggu (12/5/2019).

Pasal 104 KUHP berbunyi:

Makar dengan maksud untuk membunuh, atau merampas kemerdekaan, atau meniadakan kemampuan Presiden atau Wakil Presiden memerintah, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

Sedangkan Pasal 27 ayat 4 berbunyi:

Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan atau pengancaman.

Ancaman yang dilontarkan HS terjadi saat demo di depan Gedung Bawaslu RI, Jalan MH Thamrin, pada Jumat (10/5/2019) siang.

Menurut Argo, HS diduga mengancam Jokowi dengan kalimat ‘Dari Poso nih. Siap penggal kepala Jokowi. Jokowi siap lehernya kita penggal kepalanya. Demi Allah’.

Sebelumnya, pada Sabtu (11/5/2019) Relawan pendukung Jokowi yang tergabung dalam organisasi Jokowi Mania melaporkan video ancaman HS ke Polda Metro Jaya.

Ketua Umum Tim Jokowi Mania, Immanuel Ebenezer, mengatakan tindakan HS telah membuat resaah. “Ini, kan, sangat meresahkan sekali. Kalau seandainya proses demokrasi ini selalu di bawah ancaman. Ini bahaya, yang bahaya bukan kita, ya, tapi demokrasinya,” kata Immanuel kepada wartawan.

Immanuel mengaku tidak tahu identitas pria dalam video serta pembuat video. Ia menyerahkan pengungkapan identitas tersebut kepada pihak kepolisian.

Setidaknya, perbuatan pelaku menjadi pelajaran bagi masyarakat untuk bertutur kata dan bertindak yang tidak menyalahi aturan. Perbuatan pelaku saat ini telah merugikan diri sendiri akibat terprovokasi kebencian terhadap Presiden Jokowi.

Meski demikian, masyarakat diimbau untuk tetap menyerahkan penanganan kasus tersebut kepada kepolisian dan berharap pelaku diberikan sanksi setimpal dengan perbuatannya.