Portal Seword Dan Usaha Mengaitkan Pemerintah Sebagai Sponsornya

0
258

WartaKota- Masyarakat Indonesia ternyata masih gamang dengan kebebasan berpendapat. Subyektifitas individual dan ego partisan masih sangat kental sehingga satu sama lain tidak dapat menerima pendapat yang berbeda dengan kelompok maupun pribadinya.

Portal Seword dotcom yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan didirikan oleh seorang bernama Alifurrahman S. Asyari, tidak lepas dari subyektifitas opini dan kecenderungan politik dan sosial budaya artikel yang ditulis oleh para penulisnya. Penulis Seword juga tidak berkaitan sama sekali dengan pemilik portal, kecuali ada nya honor yang dihitung berdasarkan jumlah pembaca artikel masing-masing.

Bila dibandingkan seword dan facebook keduanya mempunyai jenis yang sama dimana seseorang dapat menuangkan pendapat dan tulisannya segera setelah mendaftarkan diri. Seperti halnya Facebook, Seword pun merupakan portal yang jauh dari kaidah baku jurnalistik dan tidak patut dijadikan referensi ilmiah karena subyektifitas penulisannya.

Melalui kanal opini ini masyarakat diharapkan dapat belajar menulis dan menuangkan pikirannya secara bebas. Seword beroperasi dari dukungan puluhan penulis lepas yang menyuarakan apa yang menjadi pemikirannya tergantung situasi politik dan sosial budaya terkini.

Menurut Alifurrahman, dalam sehari Seword bisa memuat 20-30 artikel dari 90 penulis luar sejauh ini. Tanggung jawab dan risiko tulisan tersebut, katanya, diserahkan sepenuhnya kepada penulis. Artinya, tidak ada sistem editorial yang ketat, tidak seperti pekerjaan jurnalisme umumnya.

Kejelasan identitas portal Seword perlu dijelaskan disini agar masyarakat mendapat penjelasan bahwa sesuai misinya, Seword adalah portal yang menyampaikan opini dan pemikiran masing-masing penulisnya.

Partisipasi masyarakat untuk menulis dan tingginya animo masyarakat untuk dapat didengar pemikirannya tentang suatu nilai politik, ideologi, sosial maupun budaya tertentu. Dari segmen ini portal mainstream pun telah menyediakan forum-forum opini seperti Seword antara lain :

1. Kompasiana yang berada dibawah Portal Kompas.
2. Forum Detik pada Detik dotcom.
3. Blog dan forum Viva pada portal viva dotcoid
4. Kolom pada portal cnnindonesia dotcom
5. Kolom pada portal tempo dotco
6. Forum kaskus
7. Dan berbagai kolom opini lainnya.

Terlepas dari kontroversi masing-masing portal opini semacam diatas, tentunya yang membedakan satu dengan lainnya adalah aturan baku yang harus ditaati oleh setiap penulis dari masing-masing portal.

Adanya tuduhan sarkastis bahwa Seword dibiayai oleh Istana (pemerintah) tentunya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Karena berbagai portal semacam diatas dapat di monetize (sebagai produk digital kreatif) dengan pemasangan iklan-iklan berbayar semacam dari google adsense maupun ad sense lainnya.

Perbandingan Jumlah Klik, Tampilan Halaman Dan Penghasilan rerata portal opini di Indonesia (tirto)

Penghasilan iklan dari portal opini tersebut juga tidak main-main, walaupun pemilik Seword Alifurrahman tidak pernah mengungkapkan penghasilan portalnya namun dari pengakuan pengelola postmetro dotco seperti yang dirilis portal tirto dapat menggambarkan penghasilan bisnis semacam ini. “Jadi kalau sebulan itu kita mendapat rata-rata Rp25 juta sampai 30 juta,” kata Hamdi pengelola postmetro kepada tirto Desember 2016 lalu. Sebagian besar penghasilan itu dari Google AdSense. Sisanya yang lebih kecil dari iklan, yang dimulai sejak dua bulan terakhir.

Bahkan portal piyungan yang dulunya berafiliasi langsung kepada kelompok politik Partai Keadilan Sejatera dengan nama pkspiyungan dapat mendulang hingga 1 Miliar seperti disebutkan oleh Tempo Januari 2017 lalu. Dengan penghasilan tertinggi 150 juta per bulan saat turbulensi SARA kasus Ahok sedang panas di negeri ini.

Terakhir karena di protes oleh pengurus Partai PKS, maka admin pkspiyungan kemudian membuat nama lain seperti piyungan, portalislam dan lain lain. Ciri khas portal dengan judul provokatif tentu diharapkan dapat menarik minat pemirsa untuk mengunjungi portal tersebut setelah para buzzer nya melakukan kegiatan sharing ke media-media sosial seperti Facebook dan Twitter.

Kembali kepada Seword dan seluruh portal-portal lainnya masyarakat tentu diharapkan lebih bijaksana untuk menelaah dan memahami artikel yang dimuat dalam kanal opini seperti Seword dan Kompasiana karena tidak semuanya menunjukkan keselarasan dengan minat politik atau logika berpikir pembacanya.

Kontroversi salah satu tulisan yang mencuat pekan ini dengan menggunakan akronim “ASU” kepada pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Terpilih Anies Baswedan Dan Sandiaga Uno, menjadi peluru baru untuk mengaitkan Seword sebagai peliharaan istana.

Alifurrahman sendiri telah mengakui kesalahan tersebut. “Ada satu kesalahan fatal penulis Seword terkait “ASU.” Sehingga sekarang ramai yang mencaci maki saya, baik dari kubu pendukung Jokowi maupun kelompok radikal.” kata Alifurrahman dalam laman facebooknya.

“Silahkan dilanjutkan cacian dan makiannya. Jika kalian sudah puas, nanti saya akan sampaikan permohonan maaf dan klarifikasinya.” lanjut Alifurrahman.

Tuduhan bahwa penulis-penulis Seword dilindungi pemerintah, dibantah sendiri oleh pemilik Seword, “… (mereka) menyebut bahwa penulis seword tidak diproses hukum, sambil menyalah-nyalahkan kepolisian, padahal kenyataannya memang tidak ada laporan. ” Demikian Alifurrahman.

Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah amanat Undang-undang Dasar 1945, sehingga tuduhan keji bahwa pemerintah memelihara portal hoax dan sebagainya merupakan tendensi negatif dan bertujuan politik tertentu untuk membuat citra negatif kepada pemerintah. Portal yang memuat berita tidak benar pastilah adalah portal hoax, dan tentunya kebijaksanaan publik untuk memilah informasi dan literasi yang benar dan bertanggung jawab wajib diutamakan.