Prabowo Akui Dirinya Capres Pemarah



576 Kali di Baca

Sebuah pengakuan mengejutkan diungkapkan Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto. Ia menyatakan dirinya sebagai pemimpin kadangkala harus marah.

“Kadang-kadang pemimpin, guru, bapak, harus marah,” aku Prabowo saat pidato kebangsaan di Surabaya, Jumat (12/4). Prabowo mengibaratkan seorang bapak yang tidak pernah marah terhadap anaknya. Menurut Prabowo, jika bapak membiarkan anaknya berlaku sesukanya tanpa dimarahi, justru akan menjerumuskan anak itu sendiri.

“Bayangkan jika ada seorang bapak anaknya enggak mau sekolah. ‘nak bangun, sekolah’, ‘enggak mau?’ ‘ya sudah tidur aja’. Ini bapak macam apa? menjerumuskan anaknya sendiri,” kata Prabowo.

Namun pandangan Prabowo itu berbeda dengan politikus Partai NasDem, Irma Chaniago. Bukan rahasia bahwa Prabowo Subianto adalah sosok yang emosional dan temperamental. Pemimpin dengan kepribadian demikian sangat berpeluang menjadi pemimpin yang otoriter. Bukan saja tak mau mendengarkan kritik, pemerintahan tangan besi dapat menjalankan kekuasaan dengan kekerasan dan pelanggaran HAM.

Irma Chaniago berpendapat bahwa kemarahan seorang pemimpin, dengan mengedepankan faktor emosional dan temperamental, merupakan contoh pemimpin yang tidak stabil dalam mengambil keputusan, bahkan cenderung otoriter.

“Kemarahan pemimpin cenderung membuat pengambilan keputusan yang melewati batas dan cenderung otoriter. Terbuka kemungkinan menjadi pemimpin yang antikritik,” kata Irma dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta.

“Kami melihat pihak BPN tidak dapat memahami mana pemimpin tegas dan pemimpin yang temperamental. Adalah sebuah kecelakaan berpikiran ketika tegas dan marah dianggap menjadi satu sikap yang sama, karena dua hal tersebut berbeda jauh,” ujarnya.
Anggota Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin ini mengatakan, dalam leadership program di negara manapun, temperamental dan emosi harus bisa dikontrol bukan untuk diluap-luapkan apalagi di depan umum.

“Kemarahan pemimpin dapat mengakibatkan instabilitas organisasi yang dipimpinnya sekaligus dapat membuka kemungkinan pengambilan keputusan yang terburu-buru karena emosi sesaat yang berpotensi sangat merugikan bagi organisasi tersebut,” ucapnya.

Demikian halnya politikus Golkar Muhammad Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang. Ia mengingatkan para tokoh untuk menampilkan kata-kata yang baik ketika berada di ruang publik. Pernyataan itu merespons ucapan ‘bajingan’ yang disampaikan capres 02 Prabowo Subianto saat kampanye terbuka.

“Kewajiban kita semua untuk menghadirkan kata-kata baik di ruang publik. Dan kewajiban itu lebih kuat lagi bagi para tokoh yang menjadi panutan dan diyakini sebagai pemimpin,” ujar TGB di Rumah Cemara, Jakarta, Rabu (10/4).

TGB menuturkan pemimpin perlu berkata baik mengingat Indonesia masih kental dengan konsep patronase. Ia berkata konsep itu membuat masyarakat meniru segala hal yang diperbuat oleh pemimpinnya.

“Jadi kita harus berhati-hati dan memastikan untuk jangan mengotori ruang publik lagi dengan ucapan-ucapan yang tidak baik,” ujarnya.