Rockin For West Papua Usaha Benny Wenda Satukan Mindset Perusuh Dalam Negeri Di Papua

9,827 Views

Benny Wenda yang kini disebut-sebut sebagai dalang kerusuhan di Papua, bukan seorang tokoh yang baru muncul tiba-tiba dalam pergerakan konflik di Papua selama ini. Benny Wenda sejak melarikan diri dari hukum di Indonesia dan tiba di Inggris pada tahun 2013 telah mencanangkan satu pergerakan internasional bersama para simpatisan Gerakan Papua Merdeka di Belanda pada khususnya dan Eropa pada umumnya.

Berbagai bentuk provokasi dan kampanye Papua Merdeka telah dilancarkan berisi informasi palsu dan keji yang tidak dapat dipertanggungjawabkan seperti pembunuhan 500 ribu orang Papua, selain isu bahwa Papua masih berupa koloni Indonesia seperti status Timor Timur yang kini menjadi Negara Timor Leste.

Kampanye tersebut dilakukan dalam bentuk konser perdamaian sejak tahun 2016 lalu dan dilaksanakan tiap musim gugur pada bulan Oktober saat wisatawan mancanegara banyak berdatangan ke Eropa. Penggalangan dana pada dilakukan di awal tahun sekitar bulan maret dan kampanye di media sosial enam bulan sebelum pegelaran konser tersebut.

Sehingga dapat dipastikan bahwa dugaan Pemerintah kepada Benny Wenda sebagai penggerak kerusuhan dan konflik terkini di Papua adalah tepat. Benny Wenda diluar negeri bersama Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan oknum Aliansi Mahasiswa Papua yang berafiliasi pada gerakan separatis punya kesamaan mindset serta mengatur terjadinya demonstrasi, mulai dari penentuan waktu sampai apakah aksi akan berlangsung damai atau rusuh.

“Dari pengamatan, persepsi aktual dari pengamatan Intelijen, memang ada konspirasi antara Benny Wenda dengan Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP). Itu ada, bukan mengada-ada,” Kata Wiranto

Ia menambahkan, para aktor konspirasi ini diduga berencana mengacaukan kawasan Papua dan Papua Barat. Benny, KNPB, dan AMP, memiliki tujuan tertentu atas kerusuhan tersebut.

“Direncanakan ada lagi yang mengacau perkotaan. Ada buktinya. Tapi, tidak semua informasi untuk kepentingan operasional disampaikan ke publik,” tambah Wiranto.

Kampanye Genosida yang dilakukan selama ini tidak pernah dapat dibuktikan sehingga isu tersebut makin redup dan tidak laku. Kerusuhan demi kerusuhan yang diciptakan oleh mereka di Papua akhir-akhir ini berhasil ditangani secara dingin dan persuasif oleh aparat keamanan sehingga upaya penciptaan “korban genosida” baru pada Orang Papua Asli gagal total.

Pada tahun 2019 ini Rockin For West Papua (RFWP) akan dimulai pada tanggal 5 Oktober di kota Cape Town, Afrika Selatan. Dipilihnya kota Cape Town sebagai kota pertama bukan tanpa alasan yang tepat. Pemilihan kota pertama RFWP merupakan satu upaya Benny Wenda cs untuk membuat mindset baru adanya sikap rasialis oleh Indonesia kepada warga Papua seperti yang pernah dialami warga Afrika Selatan pada rejim rasis masa lalu.

Penerimaan penghargaan Oxford oleh Benny Wenda adalah langkah awal provokasi dan kampanye rasis oleh pihak asing yang ingin terus mengacaukan Papua. Setelah menerima Penghargaan Oxford pada bulan Juli 2019 Benny Wenda mulai mengklaim dirinya sejajar dengan Tokoh Anti Rasis Sedunia Nelson Mandela yang menerima penghargaan yang sama pada tahun 1997

Pemberian penghargaan ‘Freedom of Oxford’ untuk Benny Wenda berawal dari usulan anggota Partai Hijau, Craig Simmons, yang disetujui oleh anggota dewan lainnya. Simmons berdalih Benny Wenda telah memberikan dampak positif secara global melalui kampanyenya untuk membebaskan Papua Barat dari Indonesia.

Dukungan Partai Hijau adalah salah satu bentuk kampanye baru gerakan separatis Papua berupa Ecosida selain Genosida. Tuduhan tersebut menyatakan pemerintah RI telah menghancurkan lingkungan dan hutan di Papua sehingga misi mereka dapat menyusup pada isu Perubahan Iklim di dunia dan menggerakan para aktifis-aktifis lingkungan yang dikenal militan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *