Sandiaga Uno Janjikan Kiai Oke Oce, PDIP DKI: Program Gagal Total

0
15

Wartakota – Calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno di hadapan kyai-kyai menjanjikan pusat pelatihan wirausaha bagi para kyai dalam program One Kyai for One Center Enterpreneurship (OKE OCE). Sandi juga berjanji bakal mensejahterakan guru-guru ngaji.

Sedikit mengulang kebelakang, program Oke Oce yang pernah digagas Anies Baswedan-Sandiaga Uno pada Pilgub 2017 lalu itu dinilai gagal total mencapai targetnya.

Sekretaris Fraksi PDIP DKI Jakarta, Dwi Rio Sambodo mengatakan bahwa Anies-Sandi gagal total untuk merealisasikan janjinya menciptakan banyak pengusaha baru melalui program unggulan OK OCE.

“Setahun kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan bersama Sandiaga Uno, baru berhasil mencetak usaha sekitar 3,31 persen, terlampau jauh dari sasaran awal,” jelas Rio.

Kegagalan ini tercermin dari beberapa program yang tidak dapat memcapai target awal, diantaranya dari 54 ribu warga yang sudah mendaftar OKE OCE, hanya sedikit yang berhasil hingga mendirikan izin usaha atau sekitar 3,31%. Selanjutnya, dari 44 target pembangunan OK OCE Mart hanya dibangun 7 gerai, bahkan terdapat satu gerai yang ditutup karena tidak sanggup membayar sewa.

Tak hanya itu saja, program OK Otrip yang diubah menjadi Jak Lingko juga dinilai tidak dapat memenuhi target penumpang. Sementara pengadaan rumah DP Rp 0 juga tidak dinikmati warga miskin karena cicilan yang sangat tinggi dan pengendalian banjir juga mandek.

Artinya, janji kampanye Sandi untuk mensejahterakan guru ngaji dan kyai dengan mendirikan pusat pelatihan wirausaha melalui Program One Kyai for One Center Enterpreneurship (OKE OCE) kemungkinan besar akan sama hasilnya dengan program sebelumnya yaitu “Gagal” atau dengan kata lain tidak dapat direalisasikan.

Program OKE OCE sepertinya hanya dijadikan iming-iming untuk merebut simpati dan dukungan dari kalangan guru ngaji dan kyai yang selama ini cenderung mendukung Jokowi-Ma’ruf.

Selama ini pihaknya hanya pandai dalam teori dan konsep program, namun tidak mampu merealisasikannya. Tentunya tidak dapat direalisasikan karena hanya asal membuat konsep dengan tema bahasa yang nyentrik namun tidak ada bobotnya, dan konsep program tersebut tidak pernah dilengkapi dengan hasil survey dan penelitian terkait dengan substansi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here