Sandiwara dan Kejutan Kubu Pecundang Tak Datang ke MK



1,937 Kali di Baca

Cawapres 02 Sandiaga Uno meminta pendukungnya untuk tidak datang ke sidang gugatan hasil Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK).

Sandiaga menyarankan agar pendukung berdoa di rumah daripada memobilisasi massa di MK saat sidang.

Sandi juga mengatakan akan menerima apapun hasil keputusan MK tanpa menekan jalannya sidang.

“Saya sampaikan harapan kita bagi pendukung, tinggal di rumah, tidak perlu bondong-bodong datang kepada MK,” kata Sandiaga kepada wartawan setelah keluar dari rumah Prabowo di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Selasa (11/6/2019).

Dalam kehidupan ini politik sangat tepat bila disandingkan dengan lagu rocker gaek Ahmad Albar yang berjudul “Dunia Panggung Sandiawara”. Dalam penggalan liriknya pun teruntai ceritanya yang mudah berubah.

Gambaran inilah yang pas buat Sandiwara Uno. Sandiwara sepertinya telah menyatu di dalam dirinya.

Maka kita bisa pastikan bahwa keputusan MK nanti akan dipenuhi dengan aksi protes dari kubu pecundang dan tidak menutup kemungkinan akan ada kerusuhan yang lebih besar dari 22 Mei.

Tak terhitung berapa banyak sandiwara yang telah dimainkannya sejak masa kampanye, mulai dari tempe setipis ATM hingga menyebut tokoh-tokoh fiktif untuk menyerang pemerintah.

Namun Sandiwara Uno lupa bahwa jarak antara cinta dan benci itu setipis ATM, jarak antara salah dan benar itu hanya setipis ATM. Beliau lupa, ketika semakin sering dia berbohong maka orang akan semakin tahu fakta yang sebenarnya.

Sekedar diingat saat setelah pemilihan 19 April Sandi beraksi dengan memainkan sandiwaranya sebagai good guy, beliau saat itu dengan memasang mimik wajah memelas seolah-olah ingin menyatakan bahwa ada yang salah dengan klaim kemenangan Prabowo, tidak sedikit yang tertipu apalagi beliau sempat mengatakan jika “Pemilu pada 2019 sudah berjalan dengan jujur dan adil”.

Namun sandiwara tersebut tidak bertahan lama, karena beberapa saat kemudian beliau menekankan akan berjuang bersama Prabowo untuk mengawal hasil pemilu yang konon katanya penuh dengan kecurangan. Akhirnya orang-orang yang tertipu sadar dari mimpinya bahwa Sandiwara tetaplah sandiwara untuk selamanya.

Namun inti dari semuanya adalah bagaimana meraih kekuasaan dan mempertahankannya, dalam berkuasa ada pemimpin yang menjalankan peran destruktif dan ada yang menjalankan peran konstruktif.

Begitu pula dalam meraih kekuasaan, ada yang caranya menciptakan karya-karya yang dapat dinikmati dan akhirnya mendatangkan pemilih, ada yang caranya dengan menghalalkan segala cara, tidak peduli yang disebabkannya adalah kehancuran dan perpecahan di tengah masyarakat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *