Sebut Dirinya Tak Berambisi Cawapres, Pengamat: Hati-Hati Sama Cak Imin

20 Views

Radarkontra – Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin membantah bahwa dirinya berambisi besar menjadi calon wakil presiden RI mendampingi Joko Widodo yang ditunjuk beberapa partai sebagai calon presiden RI pada ajang Pilpres 2019.

“Katanya saya ambisius? Tidak, saya tidak ambisius. Saya hanya ambisi membereskan persoalan-persoalan bangsa, mengangkat harkat martabat kaum Muslimin dan santri NU,” kata Cak Imin seusai kunjungan ke Pondok Pesantren Condong, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (19/3/2018).

Namun dari manuver-manuver yang dilakukan oleh pendukungnya memang Cak Imin tidak bisa mengelak begitu saja.

Pertanyaan tajam Najwa di program “Mata Najwa”, Rabu (14/3/2018), membongkar klaim Muhaimin yang menganggap dirinya merupakan calon wakil presiden (cawapres) Joko Widodo dengan pengalaman paling lengkap. Seperti diketahui Muhaimin memang pernah menjabat baik di ranah eksekutif maupun legislatif.

“Dibanding dengan yang lain, (Jokowi) rugi jika tidak mengajak Anda (menjadi wakil presiden)?” tanya Najwa Shihab kepada Muhaimin Iskandar.

Menanggapi Najwa, laki-laki yang akrab disapa Cak Imin itu berkata, “Saya sering mengingatkan pendukung Pak Jokowi di organ-organ yang resmi maupun yang tidak resmi. Saya ingatkan bahwa Jokowi elektabilitasnya bahaya di 2019. Kalau sampai milih wapres yang salah, (Jokowi) bisa kalah.”

 

Pengamat politik Boni Hargen secara terang-terangan memperingatkan PDIP untuk memikirkan benar lamaran Muhaimin Iskandar menjadi cawapresnya Jokowi. Bukan soal PKB-nya, tapi karena sosok Muhaimin.

Pengamat politik Boni Hargens menyebut Muhaimin orangnya ambisius. Segala cara dilakukan asal ambisinya tercapai.

Menurut dia, langkah PKB menyodorkan nama Muhaimin sebagai salah satu cawapres ke PDIP untuk mendampingi Joko Widodo sudah dirancang jauh-jauh hari. Sedangkan Mahfud MD dan Rhoma Irama yang sebelumnya digadang-gadang hanya dimanfaatkan untuk menaikkan suara partai.

“Dari awal Mahfud dan Rhoma hanya untuk memulihkan elektabilitas saja dengan merebut suara tradisional warga NU. Setelah itu Muhaimin ambil alih,” kata Boni kepada redaksi (Rabu, 16/4).

Boni mengatakan jika PDIP memasangkan Jokowi dengan Muhaimin sebagai capres dan cawapres, maka akan terjadi resistensi dari internal PDIP. Resistensinya bakal sangat keras, yang pada akhirnya melumatkan dukungan publik terhadap Jokowi.

Lagian, katanya, rekam jejak Muhaimin tidak cocok dengan yang dicari PDIP. Secara kualitas prestasi Muhaimin jauh dari harapan. Muhaimin gagal memimpin Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

“Imin (Muhaimin) pernah kena dugaan kasus korupsi. Kita ingat dulu kasus skandal kardus durian Imin. PDIP harus berhati-hati,” demikian Boni.

Kasus yang dimaksud Boni adalah kasus suap menyuap terkait Dana Penyesuaian dan Infrastruktur Daerah (DPID) Kemenakertrans. Penyidik KPK menduga kuat bahwa uang sebesar Rp 1,5 miliar di kardus durian dari PT Alam Jaya Papua yang disita saat operasi tangkap tangan merupakan uang suap yang diperuntukkan bagi Muhaimin.

Uang diberikan sebagai komitmen fee dari pengalokasian anggaran DPID empat daerah di Kabupaten Papua, yaitu Keerom, Manokwari, Mimika dan Teluk Wondama yang pengerjaannya dilakukan Alam Jaya Papua.

Soal keterlibatan Muhaimin dalam kasus tersebut dikuatkan Hakim Pengadilan Tipikor. Dalam vonis terdakwa DPID, hakim memerintahkan penyidik KPK mendalami keterlibatan Muhaimin dalam kasus tersebut namun hingga kini kasusnya masih menggantung.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *