Sedekah Putih, Solusi Pencegahan Stunting yang Tak Nyambung



183 Kali di Baca

Ketidakcakapan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno nampak jelas ketika berbicara pencegahan stunting. Bukan hanya asal, Gerakan Sedekah Putih yang diusulkan Prabowo-Sandi justru mengacaukan pemahaman masyarakat.

Kritik pun segera dilayangkan calon wakil presiden Ma’ruf Amin. Cawapres nomor urut 01 ini menilai, Gerakan Sedekah Putih yang dilakukan kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengacaukan pemahaman masyarakat soal stunting. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Kritik itu disampaikan Ma’ruf dalam debat cawapres di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/3/2019) malam. Saat itu, Ma’ruf bertanya kepada cawapres Sandiaga Uno soal gerakan Sedekah Putih. Ma’ruf mengatakan, setelah gerakan Sedekah Putih dijalankan, masyarakat menangkap bahwa pemberian susu dilakukan setelah anak selesai diberi air susu ibu selama dua tahun.

Padahal, kata Ma’ruf, kunci pencegahan stunting adalah 1.000 hari pertama pascaibu hamil. Untuk pencegahan stunting, kata dia, kuncinya pemberian asupan yang cukup, sanitasi dan air bersih hingga pemberian ASI selama dua tahun.

Ma’ruf menekankan pentingnya pemberian kolostrum ibu kepada anak yang baru lahir. Kolostrum adalah cairan berwarna kekuningan yang keluar pertama kali sebelum ASI. “Itu hukumnya wajib diberikan oleh para ahli fiqih,” ucap Ma’ruf.

Ia menambahkan, apabila susu baru diberikan setelah sang anak berusia dua tahun, maka tidak lagi berpengaruh untuk mencegah stunting. “Menurut saya, isu sedekah putih menimbulkan pemahaman yang mengacaukan masyarakat,” kata Ma’ruf.