Waspada Jangan Terlena Orkestrasi Seruan Kebencian Di Atas Isu Rohingya



45 Kali di Baca

Kegiatan viralisasi isu krisis kemanusiaan pengungsi Rohingya di Negara Bagian Rakhine, Myanmar ternyata tidak terlepas dari kepentingan politik. Seorang netizen bernama Eko Kuntadhi mengungkapkan analisanya terkait hal tersebut.

Eko menyebut nama-nama pesohor media sosial yang juga anggota DPR RI yang terhormat berusaha keras untuk menggoreng isu kekerasan di Myanmar tersebut menjadi isu keagamaan dengan tujuan membuat citra negatif atas pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Selain itu menurut Eko rencana demonstrasi di pelataran Candi Borobudur sebagai protes atas tragedi Rohingya, yang menurutnya hanya akan membakar kebencian antarumat beragama di Indonesia.

Kegiatan Viralisasi tersebut menurut Eko tidak berdiri sendiri, melainkan seperti sebuah orkestra mereka bermain dalam tugasnya masing-masing namun tetap mengikuti arahan sang Dirigen. Tema sentral orkestra tersebut tentunya untuk menguatkan kembali stigma “Jokowi Tidak Membela Umat Islam !”.

Orkestra tersebut menurut Eko telah melibatkan pula banyak orang, terutama orang-orang yang memang tidak akan pernah mengakui kepemimpinan Presiden Jokowi apalagi memberikan penilaian secara obyektif.

Pada bagian lain, Eko menyampaikan bahwa kewajiban Indonesia untuk menjaga ketertiban dan perdamaian dunia telah disebutkan dalam UUD 1945 sehingga tidak seorang pun warga negara terlepas dari kewajiban tersebut.

Hingga hari ini, Indonesia telah menunjukkan peran aktifnya dalam mengatasi krisis kemanusian di Myanmar tersebut, karena telah terbukti pemerintah Myanmar sendiri tidak menunjukkan kemampuan untuk mengatasi masalah sosial – ekonomi dan budaya dalam negerinya hingga menjadi krisis kemanusiaan yang mendapat perhatian dunia.

Eko justru mempertanyakan orang-orang seperti Fadli Zon, Fahri Hamsah dan Tifatul Sembiring sebagai Anggota DPR yang mempunyai kewajiban mengawasi pemerintah, apakah telah mengikuti perkembangan terakhir langkah-langkah dan kerja keras yang telah ditunjukkan sepekan terakhir.

Fakta telah membuktikan hasil kunjungan kerja Menlu Retno Marsudi ke Myanmar telah membuahkan hasil berupa kesepakatan penyaluran bantuan kemanusian yang diikuti oleh seluruh negara anggota ASEAN dan diawasi oleh Organisasi Palang Merah Internasional.

Peran diplomasi lainnya yang berhasil dilakukan Menlu Retno adalah penegasan pemerintah Myanmar untuk tidak membiarkan krisis kemanusiaan tersebut sehingga kekerasan demi kekerasan terus berlanjut.

Tujuan politik orang-orang yang memainkan orkestra tragedi kemanusiaan di Rohingya menurut Eko sangatlah dangkal, “Mereka sudah membuktikan betapa ampuhnya strategi kebencian ini pada kasus Pilkada Jakarta. Mungkin isu Rohingya ingin dijadikan seperti Al Maidah 51. Bukankah kita semua sudah pernah menyaksikannya kedasyatan akibatnya.?” Tutup Eko.