Yenny Wahid: Wanita Muslim Indonesia tidak Bersedia Menjadi Radikal

55 Views

Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid mengatakan bahwa wanita muslim di Indonesia lebih toleran dibanding dengan laki-laki. Sebab sebanyak 80,7 persen perempuan Indonesia mendukung hak kebebasan dalam menjalankan ajaran agama dan keyakinan.

Selain itu ia juga memaparkan sebanyak 80,8 persen perempuan tidak bersedia menjadi radikal.

“Ini adalah hasil survei yang memaparkan situasi potensi toleransi sosial keagamaan di kalangan perempuan muslim dan menyoroti faktor yang berkontribusi terhadap penerimaan terhadap penguatan toleransi di Indonesia,” kata Yenny Wahid di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, Senin (29/1/18).

Survei nasional ini didukung oleh UN Women dan Wahid Foundation dan dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia sebagai bagian dari program “Perempuan Berdaya, Komunitas Damai”.

Dalam analisisnya, survei ini menunjukkan rekomendasi terkait peran perempuan muslim dalam membangun nilai toleransi dan perdamaian.

Adapun survei ini dilaksanakan di bulan Oktober 2017 dan melibatkan 1500 responden laki-laki dan perempuan di 34 provinsi di Indonesia.

Survei ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada pembuat kebijakan, institusi pemerintah dan pemimpin komunitas untuk mengatasi masalah toleransi sosial keagamaan dengan memberikan kesempatan dan mendorong kepemimpinan perempuan dalam membangun kohesi sosial dan memperkuat ketahanan di tingkat masyarakat.

Yenny mengatakan perempuan memiliki peran penting dalam menyebarkan nilai-nilai kepada keluarga dan komunitas. Namun, potensi dan kontribusi dari perempuan dalam perdamaian, sejak dulu, seringkali diabaikan.

“Sekarang inilah saatnya membuka potensi perempuan sebagai agen perdamaian,” ujarnya.

Tak hanya itu saja, survei nasional ini juga melihat bagaimana kesetaraan gender dipersepsikan oleh perempuan muslim di Indonesia. Berdasarkan hasil survei, 14,9 persen perempuan mendukung pandangan dan sikap progresif tentang gender dan 8,6 persen perempuan mendukung pandangan dan sikap yang pro keadilan gender.

Hasil survei juga menunjukan bahwa tingkat otonomi perempuan 53,3 persen untuk mengambil keputusan dalam hidupnya lebih rendah dibanding laki-laki 80,2 persen.

Hal ini menunjukan bahwa upaya pengarusutamaan gender dan pemberdayaan perempuan merupakan agenda strategis dalam upaya penguatan toleransi dan perdamaian di kalangan perempuan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *